RagamWarta.com – Masyarakat Trenggalek perlu berhati-hati dalam membeli ataupun merawat hewan ternaknya. Ditahun 2024 ini kembali ditemukan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di Trenggalek.
Kepala Disnak Trenggalek, Joko Susanto menyebutkan bahwa dalam kurun waktu tahun 2024 ini sudah tercatat ada 24 hewan ternak yang terjangkit PMK.
Dari 24 hewan ternak tersebut tersebar di beberapa kecamatan, diantaranya 10 ekor berada di Kecamatan Tugu, lalu 7 ekor di Kecamatan Dongko, 5 ekor di Kecamatan Panggul, dan 2 ekor di Kecamatan Pule.
Hingga saat ini 24 hewan tersebut sedang mendapatkan perawatan dari petugas Dinas Peternakan (Disnak) Trenggalek.
“Kondisinya hewan ternak tersebut semakin membaik,” jelas Kepala Disnak Trenggalek, Joko Susanto, Senin (29/4/2024).
Disnak Trenggalek juga terus melakukan pemantauan kasus PMK pada hewan ternak. Hal ini disebabkan pada beberapa waktu lalu juga terdengar adanya kasus PMK di kabupaten tetangga.
Diketahui bahwa wilayah kabupaten tetangga yang terkena serangan PMK tersebut berbatasan langsung dengan wilayah Trenggalek.
“Wabah PMK ini di beberapa daerah sudah muncul kasus lagi, kami juga waspada terutama terkait keluar masuknya sapi ke Trenggalek,” tuturnya.
Meskipun demikian, capaian vaksinasi PMK Trenggalek sudah melampaui target yang ditentukan, yaitu 20 ribu ekor hewan ternak.
“Capaian kami lebih dari 200 persen, dari angka tersebut ada yang baru mendapatkan vaksin pertama, tapi mayoritasnya adalah booster,” ungkap Joko.
Capaian vaksinasi PMK di Trenggalek saat ini mencapai 56.992 ekor. Dengan rincian Januari terdapat 23.870 ekor, lalu pada Februari mencapai 21.409 ekor dan pada Maret terdapat 11.713 ekor.
Di lain sisi, Joko juga mengimbau masyarakat untuk tidak membeli sapi yang menunjukkan gejala PMK.
Gejala yang dimaksud oleh Disnak Trenggalek berupa produksi air liur yang berlebihan, luka di kuku dan lesi di mulut.
Dirinya juga menjelaskan bahwa mayoritas pembeli tidak akan berminat untuk membeli sapi yang memiliki gejala PMK.
“Mayoritas pembeli sudah tahu, kalau ada gejala PMK, mereka tidak akan mau membeli meski dijual dengan harga yang miring,” tutup Joko.






