RagamWarta.com – Menyikapi fenomena banyaknya sekolah dasar yang kekurangan siswa baru, Anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Trenggalek, Haris Yudhianto angkat bicara.
Menurut Haris, ada tiga faktor utama yang menjadi penyebab menurunnya jumlah siswa di sejumlah sekolah dasar. Pertama kesenjangan geografis dan ekonomi, ketimpangan kualitas guru dan fasilitas, dan celah dalam sistem pendidikan yang masih perlu pembenahan.
“Dulu banyak kebijakan pembangunan sekolah yang tidak tepat sasaran. Beberapa sekolah dibangun terlalu berdekatan, padahal secara geografis tidak strategis,” jelas Haris saat ditemui awak media, Selasa (15/7/2025).
Ia juga menyoroti adanya ketimpangan kualitas antar sekolah. Hal ini menyebabkan masyarakat cenderung memilih sekolah yang dianggap lebih baik, meskipun jaraknya lebih jauh dari tempat tinggal.
“Pemerintah belum mampu memastikan pemerataan kualitas antar sekolah. Orang tua lebih memilih sekolah yang bagus, bukan yang dekat. Ini akhirnya membuat sekolah-sekolah tertentu kekurangan murid,” imbuhnya.
Lebih jauh, Haris juga mengkritisi sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang dinilainya masih memiliki banyak celah. Pasalnya banyak sekolah favorit tetap bisa diakses oleh masyarakat luar zona, meskipun aturan zonasi diterapkan.
“Ditambah lagi proses pendaftaran online, bagi masyarakat dengan latar belakang pendidikan rendah, hal ini masih sulit diakses,” terangnya.
Sebagai solusi, Haris mendorong pemerintah untuk memperbaiki tiga hal utama tersebut secara menyeluruh. Selain itu, ia menilai opsi regrouping sekolah dapat menjadi langkah efisien dalam menekan pembiayaan operasional sekolah yang tidak memiliki siswa.
“Jika sekolah sudah tidak punya murid, tapi tidak diregrouping, pembiayaannya tetap berjalan. Ini tidak efisien. Namun jika ingin melakukan regrouping, tentu harus diawali dengan kajian serius terhadap permasalahan kualitas, zonasi, dan pembangunan sebelumnya,” pungkasnya






