TRENGGALEK, ragamwarta.id – Ada yang unik dalam Rumah Tahanan Di Trenggalek, biasanya narapidana perempuan mengahabiskan waktu masa tahanannya hanya dengan melakukan aktifitas sehari-hari.
Namun hal itu tidak berlaku di Trenggalek, napi perempuan di rutan kelas IIB Trenggalek ini justru asik membuat kreasi batik celup atau yang sering disebut batik Shibori.
Bahkan dalam empat bulan terakhir, mereka bisa menghasilkan uang hingga tujuh juta rupiah dari hasil penjualan batik tersebut. Tangan-tangan kreatif narapidana perempuan ini terlihat luwes saat melipat kain batik.
Bahkan Mereka tidak takut kalau tangan-tangan lentik mereka bakal kotor terkena cat saat mecelup kain batik. Uniknya lagi, Ide pertama membatik ini muncul dari seorang narapidana perempuan yang lantas disetujui dan didukung oleh Kepala Rutan Trenggalek.
Hartini, Salah satu Narapidana Perempuan menerangkankan bahwa sebelum masuk rutan pihaknya pernah mengikuti pelatihan membatik Shibori yang diadakan oleh pemerintah kabupaten trenggalek. Untuk mewujudkan keinginannya membatik, hartini sampai meminjam uang ke petugas rutan untuk beli bahan baku pada waktu itu.
“Niat awal sekedar mengisi waktu luang, tidak disangka kreasi batik Shibori enam napi perempuan ini diminati banyak orang. Bahkan instansi pemerintahan saat ini tengah melirik kreasi Shibori asal rutan Trenggalek tersebut. Dalam sehari kamk bisa membuat 15 buah batik dengan berbagai warna dan motif tergantung pesanan,” ungkapnya, Kamis (14/11/2019).
Ditempat yang sama, Dewi Nindya Sari Petugas lapas sekaligus pendamping warga binaan mengaku bangga dengan keenam warga binaannya. Bahkan kreasi batik Shibori mereka kini sudah tembus pasar luar kota, kebanyakan peminat batik Shibori buatan warga binaan ini berprofesi sebagai tenaga pengajar.
Mengetahui potensi yang luar biasa ini, Dadang Sudrajat selaku Kepala Rutan Trenggalek, akan berupaya mempromosikan hasil karya ibu-ibu warga binaan ini. Seperti halnya lebih aktif mengikuti event pameran ataupun promosi melalui media sosial lainnya.
“Batik buatan warga binaan Rutan Trenggalek ini memiliki dua macam warna, yakni warna alam dan warna sintetis. untuk warna alamnya dihargai Rp 100.000 per lembar, sementara yang menggunakan warna sintetis atau kimia hanya djual Rp 80.000 rupiah saja,” pumgkasnya.






