RagamWarta.com – Hasil pemeriksaan makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangan, Kabupaten Trenggalek, mengungkap adanya Bacillus cereus pada 2 menu. Temuan bakteri tersebut terdapat pada acar timun wortel dan tempe goreng mendoan.
Pemeriksaan dilakukan setelah 77 penerima manfaat MBG mengalami keluhan kesehatan usai menyantap makanan yang dibagikan pada 14 September 2026. Keluhan mulai diketahui sehari setelah makanan dikonsumsi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek sekaligus Asisten I Setda Trenggalek, Sunarto, mengatakan keluhan yang dialami penerima manfaat antara lain sakit perut, mulas, dan diare.
Untuk mengetahui kondisi makanan yang dikonsumsi, sampel dari sejumlah menu kemudian diperiksa di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya.
Hasil Pemeriksaan Sampel Makanan MBG
Dalam pemeriksaan tersebut, laboratorium menganalisis beberapa menu yang dibagikan kepada penerima manfaat. Paket makanan pada 14 September terdiri atas nasi putih, ayam bumbu rendang tanpa santan, acar timun wortel, tempe goreng mendoan, serta melon.
Hasil pengujian yang diterbitkan pada 22 September 2026 menunjukkan tidak semua makanan mengandung bakteri.
Sampel nasi putih dan ayam bumbu rendang dinyatakan tidak ditemukan bakteri. Sementara itu, Bacillus cereus ditemukan pada acar timun wortel dan tempe mendoan.
“Yang ada bakterinya yaitu acar, kemudian tempe mendoan. Keduanya mengandung Bacillus cereus,” kata Sunarto.
Temuan laboratorium tersebut menjadi bagian penting dalam evaluasi penyelenggaraan MBG di SPPG Karangan. Namun, Satgas MBG Trenggalek masih perlu melakukan pencocokan antara hasil uji laboratorium dengan kondisi di lapangan.
Higiene dan Sanitasi SPPG Karangan Jadi Evaluasi
Menurut Sunarto, proses pengolahan makanan hingga penyajian menjadi sejumlah aspek yang perlu diperiksa lebih lanjut. Salah satunya adalah penggunaan dan pencucian peralatan yang bersentuhan dengan bahan makanan.
Peralatan yang digunakan untuk mengolah bahan mentah dan menangani makanan siap konsumsi harus dikelola sesuai prosedur sanitasi. Apabila kebersihan alat tidak terjaga, terdapat peluang terjadinya perpindahan kontaminasi.
Kondisi tempat pengolahan serta ketersediaan air bersih juga menjadi perhatian. Kualitas air yang digunakan untuk mencuci peralatan perlu dipastikan melalui pemeriksaan secara berkala.
Evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap makanan yang hasil uji laboratoriumnya menunjukkan adanya bakteri. Seluruh tahapan pengolahan di SPPG Karangan akan menjadi bahan pembahasan agar titik yang berpotensi menimbulkan kontaminasi dapat diketahui.
Mengapa Bacillus Cereus Ditemukan pada Tempe?
Tempe mendoan menjadi salah satu menu yang mendapat perhatian karena telah melalui proses penggorengan sebelum disajikan kepada penerima manfaat.
Meski demikian, makanan yang telah dimasak tetap membutuhkan penanganan yang higienis. Kontaminasi dapat terjadi kembali apabila makanan matang bersentuhan dengan peralatan atau bahan yang tidak bersih maupun berada terlalu lama dalam proses penanganan.
Selain itu, tahapan penyajian juga menjadi bagian yang akan dievaluasi. Penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh petugas menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam memastikan makanan tetap aman setelah selesai dimasak.
“Penggunaan alat pelindung diri (APD) saat proses penyajian juga menjadi salah satu faktor yang akan dievaluasi,” imbuh Sunarto.
Sampel Melon Tidak Menunjukkan Masalah
Berbeda dengan acar dan tempe mendoan, pemeriksaan terhadap sampel melon tidak menunjukkan adanya masalah. Perbedaan hasil pemeriksaan pada setiap menu menjadi bahan untuk melihat kembali bagaimana masing-masing makanan ditangani sejak persiapan hingga dibagikan.
Satgas MBG Trenggalek masih melakukan kajian untuk memastikan pada tahapan mana potensi kontaminasi dapat terjadi. Karena itu, temuan Bacillus cereus pada makanan MBG SPPG Karangan belum secara otomatis menunjukkan satu sumber kontaminasi tertentu.
Sunarto menyebut penerapan standar operasional prosedur (SOP), kebersihan lingkungan kerja, sarana prasarana, hingga proses penyajian perlu diperiksa secara menyeluruh.
“Kesimpulannya bahwa higienis sanitasinya mungkin belum optimal, baik dari sisi SOP yang tidak dilaksanakan maupun ketersediaan sarana prasarana,” ujarnya.
Satgas MBG Trenggalek Lakukan Evaluasi
Satgas MBG Trenggalek selanjutnya akan mencocokkan hasil pemeriksaan laboratorium dengan kondisi SPPG Karangan. Evaluasi ini diperlukan untuk menemukan bagian dari proses penyelenggaraan makanan yang masih perlu diperbaiki.
Langkah tersebut juga menjadi upaya untuk meningkatkan penerapan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Dengan evaluasi terhadap proses pengolahan, kebersihan peralatan, kualitas air, sarana pendukung, serta penyajian, standar keamanan makanan diharapkan dapat diterapkan secara lebih konsisten.
Temuan Bacillus cereus pada acar dan tempe mendoan menjadi salah satu dasar bagi Satgas MBG Trenggalek untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses penyediaan makanan di SPPG Karangan.






