RagamWarta.com – Banyaknya kios di Pasar Pon yang dibiarkan tutup begitu saja menarik perhatian serius Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskomidag) Trenggalek.
Selain mengandalkan event sebagai daya tarik, Diskomidag Trenggalek juga mendorong pedagang untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui pelatihan digital marketing.
Kepala Diskomidag Trenggalek, Saniran mengakui bahwa pergeseran pola belanja masyarakat dari toko offline atau pasar ke toko online (marketplace) menjadi tantangan besar bagi pasar tradisional.
“Bukan hanya di Trenggalek, tetapi hampir di semua daerah. Pasar online berdampak signifikan terhadap penjualan di pasar offline,” ungkap Saniran, Kamis (13/2/2025).
Sebagai upaya mengatasi hal tersebut, Diskomidag Trenggalek telah memberikan pelatihan digital marketing kepada pedagang Pasar Pon.
Diharapkan, dengan kemampuan pemasaran digital, pedagang dapat menjangkau lebih banyak pembeli. Jadi tidak hanya dari pelanggan tetap di pasar, tetapi juga dari platform online.
Selain digitalisasi, Diskomidag juga menggencarkan berbagai event di Pasar Pon untuk menarik pengunjung. Salah satu yang akan segera digelar adalah Pasar Tumpah Ramadan, yang berlangsung dari 19 Maret hingga 7 April.
“Kami terus berinovasi agar Pasar Pon Trenggalek tetap ramai dengan berbagai aktivitas dan event,” kata Saniran.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga telah memberikan keringanan retribusi kepada pedagang sebagai bentuk dukungan.
“Sebetulnya sudah ada penurunan dari Perda sebelumnya, karena ada kewenangan bupati untuk memberikan keringanan,” jelas Saniran.
Meski demikian, Saniran menegaskan bahwa keberhasilan menghidupkan kembali Pasar Pon tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Ia mengajak para pedagang untuk lebih aktif dalam memanfaatkan peluang yang ada.
“Jangan hanya wait and see, mari kita bersama-sama meramaikan Pasar Pon,” pungkasnya.






