RagamWarta.com – Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata, Raden Wisnu Sindhutrisno buka Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) ke-30 di Alun-alun Trenggalek.
Deputi Kemenpar Buka FJTT, Minggu (20/9/2026). Ia menyebut seni jaranan sebagai identitas khas dan unik yang dapat menjadi daya tarik wisata Kabupaten Trenggalek.
Menurut Wisnu, kekuatan FJTT tidak hanya terletak pada pertunjukan seni yang ditampilkan, tetapi juga pada karakter jaranan yang menjadi bagian dari identitas budaya daerah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Apalagi, FJTT telah konsisten diselenggarakan selama 30 tahun.
“Masuknya FJTT ke-30 dalam KEN merupakan pengakuan dari konsistensi yang telah dibangun cukup panjang selama 30 tahun,” katanya saat isi sambutan pembukaan.
Wisnu menilai event berbasis budaya seperti ini memiliki posisi strategis dalam pariwisata. Event tidak hanya menawarkan pertunjukan, tetapi dapat menjadi alasan wisatawan datang ke suatu daerah pada waktu tertentu.
“Event itu menjadi salah satu penggerak dan daya tarik wisata yang berbeda destinasi dan budaya. Semua negara punya destinasi, semua negara mempunyai budaya, akan tetapi event wisata, event budaya itu diselenggarakan hari ini orang datang hari ini,” jelasnya.
Jaranan Jadi Identitas Wisata Trenggalek
Kementerian Pariwisata melihat FJTT memiliki peluang untuk mendatangkan wisatawan pada periode yang bukan merupakan musim liburan.
Wisnu menyebut September dan Oktober sebagai periode low season bagi pariwisata, sehingga keberadaan event dapat menjadi pemicu perjalanan wisata.
“September dan Oktober itu musim low season bagi pariwisata. Tapi karena ada event ini orang datang. Event FJTT ini menarik wisatawan dan pergerakan wisatawan mancanegara kedepannya,” ujarnya.
Menurut Wisnu, jaranan juga memberikan pembeda bagi Trenggalek dibandingkan daerah lain.
Setiap daerah memiliki identitas budaya masing-masing, sementara jaranan menjadi salah satu kekuatan yang dapat dikembangkan Trenggalek melalui event pariwisata.
“Event berbasis budaya ini menjadi alasan orang datang sekarang bukan di musim liburan. Dan jaranan ini memberi Trenggalek identitas yang khas dan unik. Dan ini tidak mudah ditiru destinasi lain,” tandasnya.
Karena itu, Kementerian Pariwisata menilai FJTT memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh, termasuk memperluas jangkauan promosi dan memperkuat posisinya sebagai event budaya yang mampu menarik wisatawan.
Tiga Dekade Menjaga Jaranan Trenggalek
Penjabat Sekda Trenggalek, ST. Triadi Admono yang hadir mewakili Bupati Trenggalek menegaskan bahwa mempertahankan penyelenggaraan FJTT selama 30 tahun bukan perkara mudah.
Menurutnya, kekayaan seni jaranan di Trenggalek tidak hanya Turonggo Yakso yang selama ini dikenal sebagai salah satu ciri khas daerah. Ada pula Centerewe, Pegon, dan berbagai bentuk tari jaranan lainnya.
Keberagaman tersebut, kata Triadi, tidak perlu dibandingkan satu sama lain. Justru seluruhnya menjadi kekayaan budaya yang perlu dipelihara dan dilestarikan.
“Ini merupakan suatu kebanggaan bagi Kabupaten Trenggalek karena tidak mudah untuk menyelenggarakan Festival Jaranan Trenggalek Terbuka selama 30 tahun. Ini budaya yang harus kita jaga,” tegasnya.
Ketua Penyelenggara FJTT ke-30 tahun 2026, Reza Jaya atau akrab disapa Joyo, mengatakan festival tersebut tidak hanya dimaknai sebagai pertunjukan seni.
FJTT juga menjadi ruang bertemu, belajar, dan berbagi pengalaman dalam menjaga ingatan serta jati diri budaya.
“Bagaimana seni jaranan di Kabupaten Trenggalek dapat terus berkembang, naik kelas dan memiliki ruang yang semakin luas lagi. Kami berharap kesenian ini bisa terus hidup, terus berkembang dan terus lestari,” katanya.
Untuk memperkuat ekosistem seni jaranan, rangkaian FJTT ke-30 juga diisi sejumlah kegiatan pendukung.
Salah satunya Samboja (Sambang Bolo Jaranan) yang menjadi ruang silaturahmi, diskusi, latihan, dan berbagi pengalaman antarkelompok jaranan di Kabupaten Trenggalek.
Panitia juga menggelar ular-ular bersama para pendahulu penyelenggara FJTT. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mendengarkan cerita dan perjalanan festival yang mampu bertahan selama tiga dekade.
Perlu diketahui, kompetisi FJTT ke-30 tahun ini terbagi dalam empat kategori:
- Turonggo Yakso Bocah diikuti 17 peserta,
- Turonggo Yakso Remaja, 17 peserta,
- Turonggo Yakso SLTA dan Umum 9 peserta dan,
- Non-Yakso SLTA dan Umum, 15 peserta.






