RagamWarta.com – Pameran Festival Jaranan Trenggalek Terbuka atau FJTT 2026 menghadirkan cara berbeda dalam mengenalkan seni tradisional kepada masyarakat. Tidak hanya memajang berbagai perlengkapan jaranan, pameran ini mengajak pengunjung melihat sosok pengrajin dan seniman yang memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan kesenian tersebut.
Pameran jaranan tersebut berlangsung di Pendapa Manggala Praja Nugraha Trenggalek pada 20–26 September 2026. Sejumlah karya dan temuan hasil riset ditampilkan untuk memperlihatkan keberagaman karakter seni jaranan yang berkembang di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pameran Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 Fokus pada Sosok Pengrajin
Konsep pameran FJTT tahun ini memiliki perbedaan dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Tim pameran tidak hanya melihat jaranan berdasarkan wilayah atau gaya daerah, tetapi mencoba mengarahkan perhatian masyarakat kepada orang yang berada di balik terciptanya sebuah karya.
Saga Tanjung, anggota tim pameran FJTT, menjelaskan bahwa penyebutan gaya berdasarkan daerah selama ini cukup umum digunakan untuk mengenali berbagai bentuk jaranan maupun barongan. Namun, pendekatan tersebut dinilai belum sepenuhnya menggambarkan karakter dari seniman yang membuatnya.
“Tahun ini kami mencoba lebih mengangkat pengrajin. Masyarakat biasanya mengenali barongan berdasarkan daerah, misalnya gaya Kedirian atau Tulungagungan. Kami ingin mengajak masyarakat melihat bahwa setiap pengrajin atau seniman juga memiliki ciri khas masing-masing,” ujar Saga.
Menurutnya, karakter seorang pengrajin dapat dilihat melalui bentuk, bahan, hingga detail karya yang dihasilkan. Karena itu, pameran FJTT 2026 tidak sekadar membicarakan asal daerah sebuah kesenian, tetapi juga memperkenalkan proses kreatif di balik karya tersebut.
Riset Sebulan Temukan Cerita Unik dari Kelompok Jaranan
Materi yang ditampilkan dalam pameran diperoleh melalui proses riset yang dilakukan tim selama kurang lebih 1 bulan. Tim berkeliling untuk menemukan kelompok maupun pengrajin yang memiliki keunikan dan cerita yang menarik untuk diperkenalkan kepada pengunjung.
Salah satu kelompok yang kemudian mendapat perhatian adalah Sanggar Jampi Kudo Tri Lestari. Tim menemukan penggunaan material alam dalam perlengkapan kesenian yang mereka buat.
“Kami menemukan Sanggar Jampi Kudo Tri Lestari yang menggunakan material dari alam. Salah satunya pecut berbahan bambu yang dicari dan dibuat sendiri. Hal itu menjadi salah satu karakter yang menarik untuk ditampilkan,” kata Saga.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kesenian tradisional juga memiliki keterkaitan dengan lingkungan. Pemanfaatan bahan alam menjadi bagian dari pengetahuan dan kreativitas yang diwariskan dalam proses berkesenian.
Peran Perempuan Turut Diangkat dalam Pameran
Selain aspek pengrajin dan lingkungan, tim pameran juga menemukan sisi lain dari perkembangan jaranan melalui Sanggar Mayangsari. Di kelompok tersebut, keterlibatan ibu-ibu PKK menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian tim.
Keterlibatan perempuan tersebut dinilai memberikan perspektif baru terhadap kesenian jaranan. Selama ini jaranan terkadang masih dikaitkan dengan kesan menyeramkan atau pertunjukan yang lebih identik dengan laki-laki.
“Di Sanggar Mayangsari kami menemukan peran ibu-ibu PKK yang ikut mengubah pandangan terhadap jaranan. Mereka memberikan warna baru sehingga jaranan bisa dinikmati oleh siapa saja dan menjadi lebih inklusif,” jelas Saga.
Temuan tersebut kemudian menjadi bagian dari materi pameran untuk menunjukkan bahwa perkembangan seni tradisional tidak hanya bergantung pada pertunjukannya, tetapi juga pada masyarakat yang ikut merawat dan mengembangkannya.
Berbeda dari Pameran FJTT Tahun Sebelumnya
Perbedaan lainnya terlihat dari materi yang dipilih. Pada pameran sebelumnya, tim lebih banyak menampilkan artefak lama yang berkaitan dengan jaranan, seperti barongan dan eblek.
Sementara tahun ini, perhatian diperluas pada keberagaman bentuk karya sekaligus cerita para pembuatnya. Salah satunya adalah variasi eblek Turangga Yakso yang ternyata memiliki bentuk dan karakter yang beragam.
“Kami sebelumnya lebih banyak menampilkan artefak yang sudah lama. Sekarang kami mencoba menghadirkan lebih banyak variasi, termasuk melihat bagaimana karya seperti eblek Turangga Yakso memiliki banyak bentuk,” ungkap Saga.
Pengunjung Melihat Jaranan dari Perspektif Berbeda
Konsep tersebut mendapat respons dari pengunjung. Thalia Silfiana menilai pameran FJTT 2026 memberikan pengalaman berbeda karena jaranan tidak hanya disajikan sebagai benda tradisi atau bagian dari pertunjukan.
“Menurut saya menarik karena di sini jaranan tidak hanya dilihat sebagai artefak, tradisi, atau pertunjukan. Ada banyak elemen visual yang bisa ditampilkan dan selama ini mungkin jarang diperhatikan masyarakat,” tutur Thalia.
Ia juga tertarik dengan Jaranan Jampi yang menurutnya memiliki keunikan tersendiri karena terdapat tiga jenis jaranan yang dimainkan dalam waktu bersamaan.
Melalui pameran ini, masyarakat diharapkan semakin mengenal keragaman seni jaranan sekaligus memahami bahwa setiap karya memiliki cerita dan karakter pembuatnya. FJTT 2026 pun tidak hanya menjadi ruang untuk melihat hasil karya, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan pengrajin, seniman, lingkungan, serta peran masyarakat dalam menjaga keberlanjutan seni tradisional Trenggalek.






