RagamWarta.com– Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Trenggalek sudah mencapai 12.809 kasus hingga minggu ke-36 tahun 2026. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek mencatat kasus mulai menunjukkan kenaikan sejak minggu ke-30 dan mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap penularannya, terutama di lingkungan keluarga.
Data tersebut berasal dari pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Kasus ISPA ditemukan pada berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, drg. Andiek Muarifin, mengatakan ISPA merupakan penyakit akut yang menyerang saluran pernapasan dan dapat menular. Penyebabnya bisa berasal dari virus, bakteri maupun mikroorganisme lainnya.
Gejala yang muncul biasanya cukup umum dan sering dianggap sebagai keluhan ringan. Di antaranya pilek, batuk, sakit tenggorokan dan demam.
“Gejalanya secara umum pilek, batuk, sakit tenggorokan, demam,” kata Andiek.
Kasus ISPA Mulai Naik Sejak Minggu Ke-30
Dinkes Trenggalek melihat adanya perubahan tren dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan grafik SKDR, jumlah kasus ISPA mulai merangkak naik sejak memasuki minggu ke-30.
Kenaikan tersebut tidak hanya terjadi di satu wilayah. Sejumlah puskesmas di Kabupaten Trenggalek juga mencatat kasus yang cukup tinggi.
Dari 22 puskesmas yang melakukan pemantauan, beberapa wilayah dengan jumlah kasus relatif tinggi berada di Tugu, Gandusari, Karangan, Munjungan dan Dongko.
Di sejumlah wilayah tersebut, jumlah kasus ISPA bahkan telah melewati angka 1.000 kasus.
Menurut Andiek, kondisi tersebut masih perlu diwaspadai karena potensi peningkatan kasus bisa terjadi selama musim kemarau. Dinkes pun terus mengikuti perkembangan kasus melalui pemantauan di fasilitas kesehatan.
Penularan ISPA Bisa Terjadi dalam Satu Keluarga
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pola penularan ISPA di lingkungan tempat tinggal. Ketika satu anggota keluarga mengalami infeksi, orang lain yang tinggal serumah memiliki kemungkinan tertular.
Hal ini terjadi karena anggota keluarga melakukan kontak dan beraktivitas dalam lingkungan yang sama setiap hari.
“Memang banyak hampir merata, usia dewasa dan anak-anak karena ini memang penyakit yang menular. Biasanya kalau satu rumah satu terkena penyakit ISPA, misalnya ibunya, kemudian anaknya ikut tertular,” jelas Andiek.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap remeh gejala ISPA. Terlebih jika keluhan mulai muncul pada beberapa anggota keluarga dalam waktu berdekatan.
Dinkes Perkuat Pemantauan dan Pencegahan
Untuk menekan penyebaran penyakit, Dinkes Trenggalek melakukan berbagai langkah pencegahan melalui puskesmas maupun rumah sakit.
Edukasi kepada masyarakat dilakukan melalui kegiatan promotif dan preventif. Informasi mengenai pencegahan ISPA juga disampaikan melalui media sosial agar lebih mudah menjangkau masyarakat.
Dinkes juga akan melakukan surveilans lebih lanjut apabila menemukan kenaikan kasus yang cukup signifikan di wilayah tertentu. Dari langkah tersebut, petugas dapat melihat kondisi di lapangan sekaligus mengetahui pola penyebaran kasus.
Masyarakat juga diminta ikut menjaga kondisi tubuh dengan rutin melakukan aktivitas fisik dan menerapkan perilaku hidup bersih.
Sementara bagi warga yang sudah mengalami gejala, penggunaan masker dapat membantu mengurangi risiko penularan kepada orang lain. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan menerapkan etika batuk juga penting dilakukan.
Dengan langkah pencegahan yang dilakukan secara bersama-sama, Dinkes berharap peningkatan kasus ISPA di Trenggalek dapat dikendalikan dan tidak meluas.






