RagamWarta.com – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Trenggalek gelar press rilis akhir tahun. Sederet capaian mentereng pada tahun 2023 dijabarkan ketua BNNK Trenggalek AKBP Suharsi pada awak media.
Dari mulai sosialisasi anti narkoba, pencegahan diberbagai wilayah, hingga upaya rehabilitasi untuk pengguna narkotika tembus target. Terlebih luasnya cakupan BNNK Trenggalek yang meliputi Ponorogo hingga Pacitan, juga menjadi tantangan tersendiri.
“Memang untuk ungkap kasus kita berada di 5 besar dari bawah se Jawa Timur. Namun bukan berarti kami berleha-leha begitu saja. Pasalnya kita justru berfokus pada upaya pencegahan,” ucap Suharsi, Rabu (27/12/2023).
Seperti yang ada pada Seksi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M). Dimana BNNK Trenggalek melampaui target seluruh capaian kinerja seksi P2M.
Selain itu deteksi dini berupa tes urine di berbagai instansi pemerintah, pendidikan bahkan masyarakat juga menunjukkan hasil yang positif. Pasalnya dari penelusuran tersebut, tidak ada yang menyalahgunakan narkotika.
“Dari instansi, ada 8 Instasi pemerintah dengan sasaran 224 pegawai. Untuk kalangan pendidikan, 87 siswa. Dan masyarakat umum dengan sasaran 70 orang. Alhamdulillah hasilnya tidak ada yang menyalahgunakan narkotika,” ujar Suharsi.
Tidak berhenti disitu, Suharsi juga menjabarkan bahwa pihaknya juga gencar adakan kegiatan sosialisasi dan kampanye anti narkoba. Seperti di lingkungan masyarakat 18 tempat, lingkungan pendidikan 52 kali, dan lingkungan swasta dan instansi pemerintah masing-masing 1 kali.
“Totalnya ada 21 Desa yang pernah kita datangi. Target kami di 2024 bakal memperbanyak sosialisasi di lingkungan pemerintah. Pasalnya sosialisasi bahaya Narkotika terhadap ASN masih sangat kurang. Jadi sedikit kita genjot di tahun 2024,” ungkapnya.
Suharsi juga mengumumkan keberhasilan seksi rehabilitasi, dimana rehabilitasi rawat jalan sepanjang tahun 2023 ada 10 orang dengan 1 kasus tindak pidana. Menurutnya, banyaknya peserta tidak lepas dari keberhasilan program sosialisasi dan pencegahan yang dilakukan tim.
“Adanya peningkatan klien rawat jalan disebabkan sudah terbentuknya lembaga intervensi berbasis masyarakat (IBM). Jadi disana, masyarakat digembleng agar sadar akan bahaya narkotika dan berani mengadukan keluarganya jika ketahuan mengkonsumsi narkoba,” jelasnya.
Dari situ, banyak masyarakat yang sadar dan berani membawa putra putri atau saudaranya untuk melakukan rehabilitasi. Selain itu, adanya Restorative Justice untuk pengguna yang diketahui memiliki kurang dari 1 gram dan tidak terlibat dengan pengedar.
“Masyarakat Trenggalek yang ketika ditangkap dengan BB di bawah 1 gram pun juga kita lakukan tread. Dimana ada yang tetap diproses hukum, dan ada juga yang dilakukan RJ atau Restorative Justice,” pungkas Suharsi.






