RagamWarta.com – Anjungan Cerdas Bendungan Tugu Trenggalek yang berada di jalur nasional Trenggalek-Ponorogo menjadi sorotan publik.
Bagaimana tidak, kawasan rest area megah yang menelan anggaran lebih dari Rp60 miliar itu memang telah resmi dibuka sejak Juni 2025, namun pembukaannya berlangsung tanpa publikasi, sehingga masih minim diketahui masyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Trenggalek, Sunyoto menegaskan bahwa kurangnya sosialisasi menjadi penyebab utama lesunya aktivitas di kawasan tersebut.
“Sebetulnya Anjungan Cerdas itu sudah dibuka. Tapi sayangnya, tanpa sosialisasi. Akhirnya ya wajar kalau masih sepi sampai sekarang,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (9/7/2025).
Menurutnya, banyak warga mengira kawasan itu masih tertutup atau belum bisa diakses publik. Bahkan tak sedikit masyarakat datang ke Disparbud Trenggalek untuk menanyakan prosedur pemakaian fasilitas tersebut.
Padahal, pengelolaan Anjungan Cerdas sepenuhnya berada di bawah wewenang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.
“Masyarakat sering datang ke kami, padahal asetnya milik provinsi. Akhirnya ya tetap kami bantu hubungkan ke sana,” imbuhnya.
Menurut Sunyoto, kondisi ini berkontribusi terhadap minimnya aktivitas dan keterlibatan masyarakat. Apalagi, beberapa bagian bangunan mulai rusak karena terlalu lama terbengkalai.
Disparbud Trenggalek pun telah menyampaikan saran dalam rapat koordinasi bersama Pemprov Jatim. Salah satunya adalah mengusulkan penghapusan sementara tarif masuk agar daya tarik kawasan bisa tumbuh.
“Sekarang yang penting kita ramaikan dulu. Tarif itu bisa diatur belakangan. Yang utama masyarakat tahu dan mau datang ke sana dulu,” tegas Sunyoto.
Sunyoto juga menuturkan bahwa pihaknya berencana mendorong komunitas dan pelaku seni di Trenggalek untuk mengisi kegiatan di Anjungan Cerdas.
Namun keberhasilan langkah ini tetap bergantung pada kolaborasi antara Pemkab Trenggalek, Pemprov Jatim, dan pihak pengelola bendungan.
“Minimal, ke depan pengelola bendungan dan anjungan cerdas bisa berkolaborasi,” ujarnya.
Pihaknya juga menyoroti pentingnya edukasi publik tentang perbedaan antara pengelolaan Bendungan Tugu dan Anjungan Cerdas. Menurutnya, kesalahpahaman kepemilikan dan pengelolaan kerap menjadi kendala teknis di lapangan.
“Terkadang masyarakat belum mengerti bahwa antara Bendungan Tugu dan Anjungan Cerdas itu dua area berbeda. Sehingga kalau mau masuk Anjungan Cerdas untuk melihat Bendungan Tugu, ya harus koordinasi dengan pengelola Anjungan sekaligus pengelola bendungan,” jelasnya.
Disparbud Trenggalek berharap agar Pemprov Jatim segera mengambil langkah strategis untuk mengintegrasikan pengelolaan kedua kawasan tersebut demi mendorong pertumbuhan pariwisata dan ekonomi lokal.
“Mudah-mudahan nanti semakin ramai dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” pungkas Sunyoto.
Mengacu data situs resmi bpiw.pu.go.id, Anjungan Cerdas sebenarnya dirancang sebagai ruang multifungsi—bukan hanya rest area, tapi juga titik edukasi, ruang publik, serta pusat promosi UMKM dan pariwisata daerah.
Namun potensi tersebut belum tergarap maksimal karena tidak adanya program pengelolaan yang berkelanjutan.
Letaknya yang strategis, persis di depan Bendungan Tugu, semestinya menjadi nilai tambah. Saat ini, kawasan itu hanya sesekali digunakan untuk acara pemerintahan tanpa aktivitas rutin yang mampu menghidupkan ekonomi lokal.






