RagamWarta.com – Ruang publik di Kabupaten Trenggalek kini memiliki aktivitas literasi yang bisa diikuti masyarakat secara cuma-cuma. Dua perempuan muda, Syifa Aulia Mahadevi dan Melinda Dwi Saputri, membuka lapak membaca buku gratis di Trenggalek untuk mengajak warga kembali menjadikan buku sebagai bagian dari aktivitas di waktu luang.
Lapak tersebut berada di kawasan Alun-Alun Trenggalek dan menghadirkan puluhan buku dengan berbagai genre. Pengunjung tidak perlu membeli atau membayar biaya tertentu untuk menikmati koleksi yang tersedia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan tersebut digagas Syifa Aulia Mahadevi, 26 tahun, bersama Melinda Dwi Saputri, 27 tahun. Keduanya merupakan lulusan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan latar belakang pendidikan berbeda.
Syifa menempuh pendidikan S1 dan S2 Manajemen Unesa, sedangkan Melinda merupakan lulusan S1 Sastra Jerman Unesa.
Bagi keduanya, kegiatan tersebut bukan sekadar menyediakan bacaan gratis. Lapak buku di ruang terbuka itu diharapkan menjadi cara sederhana untuk mempertemukan masyarakat dengan buku tanpa suasana yang terlalu formal.
Syifa mengatakan, ide tersebut sebenarnya sudah muncul sejak beberapa waktu lalu. Namun, karena kesibukan dan belum adanya waktu yang tepat membuat rencana itu baru terealisasi sekitar sebulan terakhir.
“Awalnya kita ingin meningkatkan literasi dan membantu, memfasilitasi juga, serta mengisi waktu luang saya bersama teman saya,” ujar Syifa.
Sekitar 50 buku saat ini tersedia di lapak tersebut. Koleksinya cukup beragam sehingga pengunjung dari berbagai kelompok usia memiliki pilihan bacaan.
Buku yang disediakan antara lain novel, cerpen, puisi, buku pengembangan diri atau self development, hingga buku anak-anak.
Keberagaman koleksi tersebut sengaja dipertahankan agar lapak tidak hanya menjadi tempat membaca bagi kalangan tertentu. Anak-anak maupun orang dewasa dapat memilih bacaan sesuai minat masing-masing.
Menurut Syifa, munculnya kegiatan tersebut juga tidak terlepas dari keresahan pribadinya mengenai minat baca masyarakat. Dari keresahan itulah muncul keinginan untuk membuat kegiatan sederhana yang dapat dilakukan langsung di ruang publik.
“Karena seperti yang kita tahu literasi di Indonesia, di Trenggalek khususnya, juga mungkin cukup kurang. Jadi, dimulai dari keresahan itu kita memberanikan diri untuk membuka lapak baca buku gratis ini,” jelasnya.
Bukan Sekadar Lapak Buku
Konsep yang diusung Syifa dan Melinda cukup sederhana. Masyarakat yang berada di sekitar Alun-Alun Trenggalek dapat datang dan memanfaatkan waktu luang dengan membaca koleksi buku yang telah disiapkan.
Kegiatan ini direncanakan berlangsung secara berkala. Keduanya menargetkan lapak dibuka setiap dua minggu sekali, tepatnya pada Minggu sore.
Waktu tersebut dipilih karena menjadi salah satu momen ketika masyarakat biasanya beraktivitas atau menghabiskan waktu bersama keluarga di kawasan Alun-Alun Trenggalek.
“Kalau rencananya kita buka dua minggu sekali di hari Minggu sore,” kata Syifa.
Lapak membaca tersebut berlangsung hingga suasana mulai gelap atau sekitar setelah Magrib. Dengan konsep terbuka seperti ini, kegiatan membaca diharapkan dapat menyatu dengan aktivitas masyarakat di ruang publik.
Nama yang digunakan juga dibuat sederhana dan mudah diingat. Mereka memakai istilah MBG, kependekan dari “Membaca Buku Gratis”.
Pemilihan istilah tersebut terinspirasi dari konten serupa yang pernah dilihat Syifa di media sosial. Menurutnya, istilah MBG sudah cukup familiar di masyarakat sehingga dinilai menarik perhatian ketika digunakan sebagai slogan kegiatan literasi tersebut.
“Awalnya itu karena saya melihat ada di FYP orang yang juga membuka lapak buku gratis seperti ini. Saya rasa penggunaan kata MBG atau membaca buku gratis ini menarik untuk orang-orang karena cukup familiar juga secara luas,” ungkap Syifa.
Penggunaan istilah tersebut kemudian menjadi identitas tersendiri bagi lapak membaca yang mereka jalankan.
Target Tingkatkan Minat Baca Masyarakat
Syifa berharap kehadiran lapak membaca buku gratis dapat memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat Trenggalek. Salah satu target utamanya adalah mendorong meningkatnya minat baca, terutama di kalangan anak-anak dan generasi muda.
Ia menyadari bahwa sebuah lapak kecil dengan puluhan buku mungkin bukan solusi tunggal untuk persoalan literasi. Namun, kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk menciptakan kebiasaan membaca di tengah masyarakat.
“Harapannya yang pasti literasi atau minat baca dari warga ataupun anak-anak khususnya di daerah Trenggalek ini semakin meningkat,” ujarnya.
Ke depan, Syifa dan Melinda juga ingin mengembangkan kegiatan tersebut agar tidak hanya sebatas aktivitas membaca secara mandiri.
Mereka memiliki gagasan untuk membuat kegiatan berkumpul bersama para pembaca melalui konsep book party. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat dapat membaca buku bersama sekaligus melakukan berbagai aktivitas yang masih berkaitan dengan literasi.
“Kita ingin nanti ke depannya ada semacam book party. Kayak ada teman-teman berkumpul terus membaca buku bersama, terus kegiatan bersama tentang membaca buku seperti itu,” tutur Syifa.
Terbuka untuk Donasi Buku
Untuk memperkaya koleksi, pengelola juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin menyumbangkan buku.
Donasi tersebut diharapkan dapat membantu menambah pilihan bacaan bagi pengunjung. Dengan semakin banyak koleksi yang tersedia, lapak membaca diharapkan bisa menjangkau lebih banyak pembaca dengan minat yang berbeda.
Masyarakat yang ingin berkontribusi dapat menghubungi akun Instagram @ceritabacaku melalui pesan langsung atau DM.
“Untuk donasi buku kita membuka. Untuk donasi bisa menghubungi sosial media kita di @ceritabacaku di Instagram. Bisa DM di sana,” pungkas Syifa.
Kehadiran membaca buku gratis di Trenggalek ini menjadi salah satu bentuk kegiatan literasi berbasis komunitas yang memanfaatkan ruang publik. Dengan konsep sederhana, puluhan buku, dan akses tanpa biaya, lapak tersebut diharapkan dapat menjadi titik temu baru bagi masyarakat yang ingin membaca sekaligus membangun kebiasaan literasi di Trenggalek.






