RAGAM WARTA – Sekarang masyarakat terdampak longsor yang ada di Desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek bisa kembali bermukim dengan tenang. Bagaimana tidak, sedikitnya 29 hunain tetap rampung di bangun.
Resmikan hunian tetap warga korban longsor, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, datang langsung ke lokasi. Peresmian ditandai dengan pemotongan tumpeng dan pengguntingan pita. Pelaksanaan peresmian ini bertepatan dengan libur cuti Tahun Baru Imlek 2574, dan Bulan Rajab.
Saat peresmian, Khofifah menerangkan jika berdirinya huntap milik masyarakat terdampak longsor ini merupakan hasil kolaborasi berbagai institusi pemerintah daerah.
“Ada daerah terdampak dan berisiko tinggi jika ditempati, kejadian itu sangat banyak daerah. Maka ada beberapa solusi yang bisa segera kita lakukan. Kebetulan Pak Bupati Trenggalek menyampaikan dan Pemprov di sini memiliki lahan maka bisa langsung digunakan untuk relokasi,” ungkapnya, Senin, (23/01/2023).
Dijelaskan Khofifah, totalnya ada 29 rumah yang dibiayai oleh Provinsi Jawa Timur. Dengan biaya masing-masing Rp 50 juta, huntap di Trenggalek ini habiskan Rp 1,45 miliar.
“Saat ini, sebanyak 25 unit rumah telah berdiri di lahan relokasi. Sementara empat rumah dibangun di lahan milik sendiri. Sementara sumber dana berasal dari Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD Pemprov Jatim 2022,” tambahnya.
Sementara itu. Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin menyampaikan terima kasih atas perhatian serta gerak cepat Gubernur Khofifah. Menurutnya pemberian solusi paska terjadinya bencana tanah gerak dan longsor di Trenggalek sangat cepat.
“Alhamdulillah, Insya Allah hunian tetap sebanyak 25 unit dan 4 rumah di lahan milik pribadi warga terdampak sudah layak huni. Listrik, PDAM dan saluran limbah domestik sudah terpasang,” ucap Bupati Trenggalek.
Sementara itu, dalam laporannya, Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto menyampaikan, tanah longsor yang terjadi pada 18 Oktober 2022, telah mengakibatkan 4 rumah rata dengan tanah dan 33 rumah terpapar retakan tanah.
Atas kejadian dan guna penanganannya, Pemkab Trenggalek dan Pemprov Jatim lalu merekomendasikan relokasi hunian ke tempat yang lebih aman.
Dengan gerak cepat, Gubernur Jatim lalu menghibahkan tanah perkebunan milik Pemprov untuk hunian masyarakat terdampak. Pemprov juga membangunkan rumah warga lewat dana tak terduga senilai Rp1,45 miliar.






