RagamWarta.com – Insiden pelecehan seksual di Durenan, Trenggalek baru-baru ini menghebohkan publik setelah videonya menjadi viral di media sosial. Usut punya usut, pelaku begal payudara memiliki riwayat gangguan kejiwaan.
Dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Polres Trenggalek mengungkap bahwa pelaku begal payudara, yang juga merupakan warga Kecamatan Durenan, memiliki riwayat gangguan kejiwaan.
“Pelaku tercatat sebagai pasien di Rumah Sakit Lawang dan Poli Kejiwaan Rumah Sakit dr. Soedomo Trenggalek sejak tahun 2019, dan hingga saat ini masih menjalani pengobatan,” ungkap Kasatreskrim Polres Trenggalek, AKP Zainul Abidin, Senin (29/7/2024).
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, pihak kepolisian juga membawa pelaku beserta orang tuanya ke Polsek Durenan untuk diintrogasi.
Dalam interogasi yang dilakukan oleh Tim PPA dan penyidik, terungkap bahwa pelaku benar-benar mengalami gangguan kejiwaan. Hal ini ditunjukkan melalui rekam medis dari kedua rumah sakit.
“Dan hasilnya mengacu bukti medis yang disertakan oleh orang tua pelaku menunjukkan bahwa putranya memang mengalami gangguan kejiwaan,” jelas Zainul.
AKP Zainul juga menjelaskan bahwa saat diinterogasi perilaku pelaku menunjukkan kesulitan dalam berkomunikasi. Hal itu yang menguatkan pelaku begal payudara sedang mengalami gangguan jiwa.
Menyadari kondisinya seperti itu, orang tua korban memutuskan untuk memaafkan tindakan pelaku dan tidak melanjutkan kasus ini ke ranah hukum.
“Berdasarkan temuan ini, orang tua korban membuat surat pernyataan untuk tidak melaporkan kejadian tersebut. Mengingat kondisi pelaku yang memprihatinkan,” ucap Zainul.
Sementara itu, ibunda pelaku juga turut menyampaikan permintaan maaf kepada korban dan keluarganya serta masyarakat Trenggalek atas insiden pelecehan seksual yang dilakukan oleh anaknya.
“Kami berharap masyarakat dapat memahami situasi yang terjadi karena kondisi kejiwaan anak saya,” ujar ibu pelaku begal payudara saat diinterogasi di Polsek Durenan.
Perlu diketahui, korban yang masih duduk di kelas 10 SMA bersama orangtuanya telah memaafkan pelaku setelah mengetahui latar belakang kondisi kejiwaannya.
Pihak kepolisian mengapresiasi sikap bijaksana dari keluarga korban. Mereka juga menegaskan akan terus memantau perkembangan kondisi pelaku serta memastikan tidak ada kejadian serupa yang terulang di kemudian hari.
Kasus ini menjadi perhatian penting bagi masyarakat dan pihak berwenang untuk lebih memahami serta menangani pelaku dengan gangguan kejiwaan secara manusiawi dan tepat.
Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa kondisi kesehatan mental adalah masalah serius yang memerlukan penanganan khusus dan pemahaman dari berbagai pihak.






