RagamWarta.com – Sektor pertanian di Trenggalek nampaknya bakal punah dalam beberapa tahun kedepan. Salah satu penyebab fenomena ini terjadi karena rendahnya minat generasi muda untuk terjun ke bidang pertanian.
Dikutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Trenggalek menunjukkan bahwa lebih dari separuh petani di Trenggalek berusia 55 tahun ke atas, dengan hanya 8,3% petani berusia di bawah 35 tahun.
Emil Wahyudiono, Kepala BPS Trenggalek menjelaskan bahwa rendahnya minat petani muda tidak hanya disebabkan oleh persepsi buruk terkait pekerjaan yang dianggap berkotor-kotor.
Kemudian hal ini diperparah dengan kurangnya penerapan teknologi modern dalam bidang pertanian. Padahal hal tersebut diyakini yang justru bisa membuat sektor pertanian lebih menarik bagi generasi muda.
“Kita menghadapi persaingan global. Kalau teknologi di pertanian tidak berkembang, kita kalah saing. Karena itu, diperlukan strategi yang mampu menarik minat generasi muda agar mereka mau masuk ke sektor ini,” ujar Emil.
Pendekatan teknologi seperti sistem irigasi otomatis, sensor tanah, dan drone pemantau lahan diklaim bisa meningkatkan produktivitas dan daya tarik sektor pertanian.
Namun, hingga saat ini pemanfaatan teknologi pertanian modern di Trenggalek masih terhambat oleh keterbatasan akses dan dominasi petani berusia tua yang cenderung lambat dalam mengadopsi inovasi baru.
Menurut Emil, regenerasi petani di Trenggalek harus dipacu dengan mengintegrasikan teknologi yang sesuai dengan preferensi dan gaya hidup anak muda.
“Urban farming yang dapat dilakukan di lahan sempit dengan teknologi minimalis misalnya. Hal itu dinilai lebih mudah diterima generasi muda yang cenderung memilih pekerjaan di lingkungan yang lebih bersih dan modern,” terangnya.
Kepala BPS Trenggalek berharap ke depannya bisa terbentuk ekosistem pertanian yang tidak hanya produktif tapi juga kompetitif, dengan didukung oleh petani muda yang melek teknologi pertanian.
“Kalau teknologi masuk dan diterima baik oleh generasi muda, potensi pertanian kita bisa jauh lebih optimal,” tambahnya.
Secara lebih rinci, Emil Wahyudiono menyebutkan hanya petani dengan usia di bawah 35 tahun tidak lebih dari 10 persen.
Sementara sebanyak 49,77% petani kita berusia 55 tahun ke atas. Sedangkan kelompok usia 45-54 tahun mencapai 24,18%. Sisanya, petani berusia 35-44 tahun mencakup 17,75% dan hanya 8,3% di bawah 35 tahun.






