RagamWarta.com – Goa Lowo, salah satu wisata alam legendaris di Kabupaten Trenggalek ini nampaknya mulai kehilangan pamornya. Goa yang digadang-gadang terpanjang di Asia Tenggara kini mulai sepi wisatawan.
Menanggapi tantangan itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) mulai mengambil langkah strategis dengan mengubah konsep wisata alam menjadi wisata edukasi.
“Upaya ini dilakukan untuk menarik kelompok wisatawan baru, khususnya pelajar dan sekolah. Semoga upaya ini bisa menghidupkan kembali Goa Lowo,” jelas Sunyoto selaku Kepala Disparbud Trenggalek.
Pihaknya menegaskan strategi merubah konsep wisata Goa Lowo dikarenakan tempat ini memiliki potensi edukatif. Mengingat goa lowo memiliki panjang total hampir 2 km, walaupun yang bisa dinikmati wisatawan hanya 850 meter.
Selain itu, Goa Lowo juga memiliki daya tarik alami berupa formasi stalaktit dan stalagmit yang unik. Sehingga diyakini dapat menjadi media pembelajaran tentang geologi dan ekologi.
“Goa Lowo memiliki potensi edukatif yang tinggi, dan kami sedang mengupayakan branding baru untuk menjadikannya sebagai tujuan wisata edukasi dalam waktu dekat,” ujar Sunyoto.
Pemkab berharap dengan adanya konsep wisata edukasi, Goa Lowo tidak hanya bergantung pada kunjungan wisatawan umum, tetapi juga dapat menjadi tujuan pembelajaran bagi siswa.
“Kami berharap bisa bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) untuk memasukkan Goa Lowo sebagai bagian dari destinasi kunjungan sekolah,” harapnya.
Banting stir yang direncanakan Disparbud Trenggalek terhadap Goa Lowo terpaksa dilakukan karena didapati data kunjungan yang menunjukkan penurunan drastis. Terutama saat periode libur Lebaran pada April 2024 kemarin.
Selama masa libur panjang Goa Lowo hanya kedatangan 434 wisatawan. Jauh di bawah rata-rata bila dibandingkan destinasi lain di Trenggalek yang mampu menarik hingga 2.000 pengunjung per hari.
“Di luar periode libur, pada akhir pekan kunjungan ke Goa Lowo tidak mencapai 50 orang. Bahkan hari-hari biasa sering kali tidak ada pengunjung sama sekali,” ungkap Sunyoto.
Menurut Sunyoto, fenomena ini terjadi salah satunya akibat keberadaan Jalur Lintas Selatan (JLS) yang ada di pesisir Trenggalek. Sehingga wisatawan lebih memilih lewat jalur JLS dari pada jalur utama ke Wisata Pantai.
Tak ayal, kondisi ini membuat wisata Goa Lowo yang berada di Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo tidak lagi masuk dalam jalur destinasi wisata para wisatawan.
“Dengan adanya JLS, wisata pesisir semakin ramai, sementara Guo Lowo makin sepi karena lokasinya tidak dilalui langsung oleh jalur wisatawan,” terang Sunyoto.
Oleh karena itu, upaya merubah konsep wisata Goa Lowo harus segera disiapkan. Mengingat dahulunya wisata ini sempat berjaya dan menjelma sebagai destinasi wisata unggulan di Trenggalek.






