RagamWarta.com – Bila tradisi megengan biasanya hanya diisi doa bersama, tahlilan hingga sedekah makanan, di lingkungan Masjid Ar-Ridlo Kedunglurah justru diisi dengan berbagai perlombaan untuk anak-anak.
Ada dua jenis perlombaan, yang pertama lomba Religi. Seperti hafalan surat-surat pendek, hingga doa-doa harian. Tidak hanya lomba keagamaan, disini juga menyelenggarakan lomba permainan tradisional.
Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Ridlotul ‘Ulum, Muhammad Bahau Syifa’ menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Megengan Kubro, haflah dan sekaligus menyambut bulan suci Ramadhan.
“Kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, tetapi menjadi sarana mendidik anak-anak agar terbiasa datang ke masjid, ke madrasah untuk mengaji, mencintai Al-Qur’an, serta menumbuhkan semangat belajar sejak dini,” jelasnya.
Menurut Bahau Syifa’, kegiatan seperti ini juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak agar lebih aktif dalam aktivitas positif dan mengurangi penggunaan handphone.
“Melalui kegiatan ini juga kita edukasi anak-anak untuk mengurangi penggunaan handphone dengan memperbanyak aktivitas yang bermanfaat,” ungkap Syifa’, Minggu (15/2/2026).
Lomba Religi dan Permainan Tradisional Semarakkan Megengan
Pada lomba keagamaan, peserta harus menunjukkan kemampuan terbaik dalam hafalan Yasin, adzan dan iqomah, hafalan surat-surat pendek, hingga doa-doa harian.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga pembinaan karakter religius agar generasi muda semakin dekat dengan masjid dan madrasah dalam menyambut Ramadhan.
Sementara untuk permainan tradisional ada makan kerupuk, meletus balon, balap karung, balap kelereng, memasukkan paku dalam botol, makan roti, copil, cokotan kambil, dan sundul balon sukses mengundang tawa warga.
Sedikitnya ada 53 anak-anak yang ambil bagian dalam lomba kali ini. Bahau Syifa’ juga menegaskan bahwa keterlibatan aktif warga menjadi kunci utama keberhasilan kegiatan ini.
“Kebersamaan warga dalam menyelenggarakan kegiatan ini adalah kekuatan besar. Harapannya, tradisi seperti ini terus berjalan setiap tahun dan mampu melahirkan generasi yang religius, berakhlak, serta tetap mencintai budaya lokal dan juga kirim doa kepada leluhur,” pungkasnya.






