RagamWarta.com – Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Trenggalek kembali merebak di tahun 2024. Hingga penghujung tahun, tercatat sudah ada 79 ekor sapi yang terjangkit PMK.
Merujuk data yang dimiliki Dinas Peternakan, PMK di Trenggalek tersebar di tujuh kecamatan, yaitu Kecamatan Gandusari, Tugu, Pogalan, Karangan, Dongko, Suruh, dan Trenggalek.
Dari tujuh Kecamatan tersebut, Gandusari menjadi wilayah di Trenggalek yang paling banyak ditemukan PMK, totalnya mencapai 29 ekor.
Kemudian diperingkat kedua ada Kecamatan Tugu, dengan total ada 17 ekor sapi yang terjangkit PMK. Selanjutnya Kecamatan Pogalan 13 ekor, dan Kecamatan Karangan 10 ekor.
Untuk Kecamatan Dongko ditemukan 6 ekor, sedangkan Kecamatan Suruh dan Kecamatan Trenggalek masing-masing 2 ekor.
Bahkan dilaporkan sudah ada tiga ekor sapi yang mati akibat PMK. Satu di Kecamatan Karangan, dan dua di Kecamatan Karangan. Namun ada satu ekor sapi yang dipotong paksa karena sudah menunjukkan tanda-tanda terjangkit PMK.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Trenggalek, drh. Ririn Hari Setiani menghimbau agar para peternak menunda dulu transaksi sapi untuk sementara.
“Dari laporan petugas, ada beberapa sapi yang masih sakit namun dijual oleh pemiliknya. Kondisi ini membuat penyebaran virus semakin cepat, terutama melalui lalulintas penjualan ternak,” ungkap Ririn.
Menanggapi banyaknya penyebaran PMK di Trenggalek, Ririn menegaskan bahwa pihaknya telah menerjunkan sembilan tim vaksinator ke seluruh wilayah Trenggalek guna melakukan vaksinasi pada hewan ternak.
“Namun hingga bulan Desember kemarin, kami kehabisan stok vaksin. Semoga ada tambahan vaksin dari kementerian di tahun 2025 ini,” harapnya.
Ririn juga mengingatkan bahwa penyebaran virus tidak hanya terjadi melalui hewan, tetapi juga manusia dan kendaraan yang terkontaminasi. Oleh karena itu, pencegahan melalui sanitasi yang baik sangat penting.
Bahkan walaupun ada hewan ternak yang dinyatakan sembuh PMK, tetap saja tidak bisa menyamai kwalitas dari pada yang belum pernah terjangkit PMK.
“Sapi yang pernah terkena PMK biasanya sulit untuk hamil atau yang sapi perah produksi susunya biasanya menurun,” jelas Ririn.
Terakhir, Ririn juga menerangkan bahwa keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada ketelatenan peternak. Pasalnya obat harus diberikan secara rutin saat masa pengobatan.
“Obat harus diberikan berulang kali. Kalau terus dirawat, kemungkinan sembuh sangat besar,” pungkas drh. Ririn Hari Setiani.
Perlu diketahui, gejala umum sapi yang terinfeksi PMK meliputi luka pada mulut dan kuku, demam tinggi, serta penurunan nafsu makan.
Dinas Peternakan Trenggalek mengidentifikasi beberapa faktor penyebab penyebaran PMK, antara lain, cuaca yang tidak menentu, kurangnya kebersihan ternak maupun kandang, dan terakhir lalu lintas ternak yang tidak terkendali.






