RagamWarta.com – Kasus narkoba naik di Trenggalek sepanjang tahun 2025 mulai menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan.
Kepolisian mencatat, remaja kini menjadi salah satu sasaran utama jaringan peredaran narkotika yang memanfaatkan media sosial sebagai sarana transaksi.
Data yang dihimpun menunjukkan, selama 2025 Satresnarkoba Polres Trenggalek menangani 84 kasus narkoba. Jumlah tersebut melonjak dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat 56 kasus, atau meningkat sekitar 33 persen.
Kapolres Trenggalek AKBP Ridwan Maliki menjelaskan bahwa kenaikan ini tidak sekadar persoalan angka. Perubahan pola sasaran menjadi perhatian serius aparat kepolisian.
“Peningkatan ini bukan sekadar angka. Yang paling mengkhawatirkan, pelaku dan pengguna kini menyasar kelompok usia remaja,” kata AKBP Ridwan Maliki, Rabu (7/1/2025).
Lonjakan kasus juga berdampak pada jumlah tersangka. Sepanjang 2025, polisi menetapkan 98 tersangka narkoba, naik dari 62 orang pada 2024.
Dari sisi usia, kelompok 15-19 tahun mengalami peningkatan tertinggi, dari dua orang menjadi lima orang atau naik 150 persen. Sementara kelompok usia 20-24 tahun meningkat dari 13 menjadi 21 orang.
“Berdasarkan data ini kebanyakan pengguna narkoba adalah usia produktif,” ungkapnya.
Menurut AKBP Ridwan, perkembangan teknologi menjadi celah yang dimanfaatkan pengedar untuk menjangkau target yang lebih muda.
Transaksi narkoba kini tidak lagi dilakukan secara konvensional, melainkan melalui media sosial dan aplikasi pesan instan, sehingga sulit terdeteksi secara kasat mata.
Selain faktor teknologi, masuknya jaringan dari luar daerah juga berpengaruh terhadap meningkatnya kasus narkoba di Trenggalek. Interaksi antar pelaku, termasuk residivis, dinilai memperluas jaringan peredaran di tingkat lokal.
Dari sisi barang bukti, kepolisian mencatat peningkatan signifikan sepanjang 2025. Sabu yang disita naik dari 95,97 gram menjadi 102,7 gram. Sementara pil dobel L melonjak tajam dari 20.168 butir menjadi 51.335 butir.
Menghadapi kondisi tersebut, Polres Trenggalek menegaskan perlunya keterlibatan semua pihak dalam upaya pencegahan. Kepolisian tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan lingkungan terdekat remaja.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sangat penting untuk mencegah generasi muda terjerumus narkoba,” pungkasnya.






