RagamWarta.com – Cuaca hujan yang melanda Kabupaten Trenggalek pada Senin (2/11/2026) menyebabkan serangkaian kejadian bencana di sejumlah wilayah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek menerima laporan 9 kejadian yang tersebar di 5 kecamatan, dengan kerusakan mulai dari tebing longsor, pohon tumbang, hingga infrastruktur yang ambrol.
Kecamatan yang terdampak meliputi Dongko, Panggul, Kampak, Munjungan, dan Durenan. Dari seluruh laporan yang diterima, kejadian tanah longsor menjadi salah satu yang perlu mendapat perhatian karena beberapa titik berada tidak jauh dari permukiman warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, menjelaskan bahwa laporan yang masuk melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD terdiri atas 4 titik longsor, 3 kejadian pohon tumbang, serta 2 kejadian kerusakan infrastruktur.
Menurut Triadi, sebaran kejadian tersebut menunjukkan dampak hujan yang tidak hanya terjadi pada satu wilayah. Petugas menerima laporan dari beberapa kecamatan dengan jenis kerusakan yang berbeda-beda.
“Sejak pagi hingga laporan ini diterima, ada 9 kejadian yang tercatat di 5 kecamatan. Rinciannya berupa 4 titik longsor, 3 pohon tumbang, serta 2 kejadian yang berkaitan dengan kerusakan infrastruktur,” jelas Triadi.
Longsor di Panggul Dekati Permukiman, 9 Rumah Perlu Diwaspadai
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian BPBD berada di wilayah perbatasan Dusun Joketro, Desa Nglebeng, Kecamatan Panggul. Longsor terjadi di sekitar tebing yang lokasinya berdekatan dengan rumah penduduk.
Di kawasan tersebut, sedikitnya ada 9 rumah yang berada di sekitar lereng. Kondisi itu dikhawatirkan membahayakan warga apabila terjadi pergerakan tanah kembali, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi masih berlangsung.
Triadi menyebut lokasi tersebut perlu segera mendapat penanganan untuk mengantisipasi risiko yang lebih besar. Posisi rumah yang berada di dekat tebing membuat kawasan itu perlu mendapatkan perhatian khusus.
“Di wilayah Panggul ini ada sekitar 9 rumah yang berdekatan dengan tebing. Karena lokasinya cukup rawan, penanganan perlu segera dilakukan untuk mengurangi risiko apabila terjadi longsor susulan,” ungkapnya.
Berdasarkan pendataan BPBD, longsor di Dusun Joketro juga mengakibatkan konstruksi talud penahan jalan berupa bronjong ambrol. Kerusakan berada di RT 37 RW 09, dengan perkiraan tinggi mencapai 10 meter dan panjang sekitar 12 meter.
Kondisi tanah yang berada pada kemiringan cukup curam menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kerawanan di lokasi tersebut. Ditambah guyuran hujan secara terus-menerus, kondisi tanah di sekitar tebing diduga semakin terkikis hingga akhirnya mengalami pergerakan.
Menurut Triadi, hujan yang berlangsung dalam durasi cukup lama dapat memperburuk kondisi lereng, terlebih jika berada di dekat bangunan atau permukiman.
“Struktur tanah di lokasi tersebut memiliki kemiringan dan berada di samping rumah warga. Ketika terus terkena hujan, bagian tanah mengalami pengikisan sehingga akhirnya terjadi longsor,” paparnya.
Sekolah dan Rumah Warga Terdampak Bencana Alami Kerusakan
Dampak hujan juga dilaporkan terjadi di Kecamatan Dongko. Plengsengan dan pagar SDN 2 Pandean mengalami ambrol dengan panjang kerusakan diperkirakan sekitar 10 meter dan tinggi mencapai 3 meter.
Sementara di Kecamatan Kampak, longsoran material tanah berdampak pada bangunan rumah milik Komari dan Tarikem di Dusun Buluroto, Desa Ngadimulyo. Tembok di bagian dapur rumah keduanya dilaporkan jebol akibat material longsor.
Kerusakan infrastruktur lainnya terjadi di Kecamatan Munjungan. Tiang penyangga Jembatan Nayu yang berada di Desa Karangturi dilaporkan roboh. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan lebih lanjut agar kerusakan tidak menimbulkan risiko tambahan bagi masyarakat yang melintas.
Sejumlah kejadian tersebut menjadi perhatian karena menyangkut fasilitas umum maupun bangunan tempat tinggal warga. Penanganan di masing-masing lokasi diperlukan sesuai tingkat kerusakan dan potensi bahaya yang ditimbulkan.
Tiga Titik Pohon Tumbang Ganggu Akses Jalan
Selain tanah longsor dan kerusakan bangunan, hujan juga menyebabkan pohon tumbang di tiga lokasi berbeda. Salah satunya terjadi di jalur Panggul-Dongko, tepatnya di wilayah Desa Ngrencak, Kecamatan Panggul.
Beberapa pohon yang tumbang di jalur tersebut terdiri atas pohon akasia, 2 pohon johar, dan pohon pinus. Keberadaan pohon yang melintang di sekitar jalan sempat mengganggu akses kendaraan yang melintas.
Laporan pohon tumbang lainnya diterima dari jalur Durenan-Trenggalek, tepatnya di Desa Kendalrejo, Kecamatan Durenan. Di lokasi tersebut, pohon jenis trembesi dilaporkan roboh.
Kejadian serupa juga berlangsung di jalan menuju kawasan Agro, Dusun Krajan, Desa Bendoagung, Kecamatan Kampak. Dengan adanya sejumlah pohon tumbang di jalur tersebut, pengguna jalan diimbau lebih berhati-hati, terutama ketika hujan disertai angin.
Meski mengakibatkan kerusakan di sejumlah lokasi, BPBD Trenggalek memastikan belum ada laporan korban jiwa maupun korban luka akibat rangkaian kejadian bencana pada Senin tersebut.
Warga di Daerah Rawan Bencana Diminta Meningkatkan Kewaspadaan
BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi lingkungan selama cuaca hujan masih berlangsung. Warga yang tinggal di sekitar tebing, lereng, maupun kawasan dengan riwayat longsor diminta memperhatikan perubahan kondisi tanah.
Retakan pada tanah, munculnya rembesan air baru, hingga perubahan posisi pohon atau bangunan di sekitar lereng dapat menjadi tanda yang perlu diwaspadai. Apabila muncul tanda-tanda pergerakan tanah, masyarakat sebaiknya menjauh dari lokasi berbahaya dan segera melaporkannya kepada aparat setempat.
Kewaspadaan juga diperlukan bagi pengguna jalan yang melintasi kawasan rawan pohon tumbang. Saat hujan deras maupun angin kencang, pengendara sebaiknya menghindari berteduh di bawah pohon besar atau melintas terlalu dekat dengan pohon yang terlihat miring dan rapuh.
Rangkaian kejadian ini menjadi pengingat bahwa hujan dengan durasi panjang dapat memicu berbagai risiko, terutama di wilayah dengan kondisi geografis berbukit dan memiliki banyak lereng. Masyarakat diminta tetap mengikuti informasi dari pemerintah daerah serta segera melaporkan apabila menemukan potensi bencana di lingkungan masing-masing.






