RagamWarta.com – Program rehabilitasi terumbu karang Teluk Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, mulai menunjukkan hasil.
Upaya pemulihan ekosistem laut yang dilakukan secara berkelanjutan kini berdampak nyata dengan kembalinya berbagai jenis biota laut ke kawasan perairan tersebut.
Pemulihan ekosistem laut di Teluk Prigi dilakukan melalui sejumlah pendekatan, mulai dari penanaman terumbu karang menggunakan metode bioreeftek, pengembangan media tanam kebun bibit, hingga pembangunan Eco Fish House sebagai sarana konservasi dan habitat biota laut.
Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Rembeng Raya, Kacuk Wibisono mengatakan tingkat keberhasilan rehabilitasi terumbu karang di Teluk Prigi tergolong tinggi.
Berdasarkan catatan yang dimiliki Kacuk, angka kematian bibit karang hanya berada di kisaran 15 persen.
“Alhamdulillah dari tahun ke tahun kematiannya hanya sekitar 15 persen dari bibit terumbu karang yang kami transplantasi. Jika ada yang mati, akan kami tambal tulang dan dilakukan transplantasi ulang,” ujar Kacuk.
Menurutnya, kondisi hidup atau mati bibit terumbu karang umumnya sudah dapat diketahui satu bulan setelah proses transplantasi dilakukan. Bibit yang menunjukkan tanda-tanda memutih akan segera diganti.
“Ketika hari ini kita transplant, satu bulan kemudian sudah terlihat. Kalau ada yang memutih berarti mati dan langsung kita ganti,” jelasnya.
Selain tingkat keberhasilan yang tinggi, pertumbuhan terumbu karang hasil rehabilitasi di Teluk Prigi juga tergolong cepat.
Jika umumnya pertumbuhan karang berkisar 3 hingga 4 sentimeter per tahun, di kawasan Pantai Mutiara pertumbuhannya dapat mencapai 6 hingga 7 sentimeter per tahun.
Untuk memudahkan pemantauan, kawasan konservasi rehabilitasi terumbu karang Teluk Prigi dibagi ke dalam beberapa titik. Di Pantai Mutiara, area konservasi memiliki luasan sekitar 200 x 600 meter.
Sementara di Pulau Rembeng, kawasan konservasi mencapai luas sekitar 100 x 300 meter dengan fokus pada terumbu karang buatan dan rumah ikan.
“Kalau di Pantai Mutiara ada dua bioreeftek cinta dan kebun bibit. Sementara Eco Fish House berada di Pantai Rasa,” lanjut Kacuk.
Seiring membaiknya kondisi terumbu karang, ekosistem laut di Teluk Prigi pun mulai pulih. Kemunculan plankton di sekitar terumbu karang menjadi pemicu hadirnya ikan-ikan kecil dan ikan karang yang kembali menghuni kawasan tersebut.
“Seperti ikan nemo atau ikan badut sudah mulai masuk. Selain itu ada unduk walang atau ikan piso-piso,” kata Kacuk.
Tak hanya itu, sejumlah jenis ikan lain seperti ikan lepu atau lion fish, kerapu lumpur, kerapu macan, hingga ikan mata sebelah kini semakin sering dijumpai di perairan Teluk Prigi.
“Dulu ikan-ikan ini sempat hilang karena terumbu karang rusak. Sekarang setelah direhabilitasi, alhamdulillah ikan-ikan tersebut sudah banyak yang kembali,” jelasnya.
Selain memperindah dasar laut dan meningkatkan potensi wisata bahari, keberhasilan rehabilitasi terumbu karang Teluk Prigi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.
Meningkatnya populasi ikan menjadi tumpuan warga untuk memenuhi kebutuhan lauk-pauk sehari-hari, terutama dengan cara memancing saat cuaca buruk dan nelayan tidak dapat melaut.






