RagamWarta.com – Hari Jadi Trenggalek ke-832 diklaim bakal lebih terbuka. Pemerintah Kabupaten Trenggalek mengaku ada perbedaan dibanding pelaksanaan tahun sebelumnya.
Jadi di momentum perayaan tahun ini Pemkab Trenggalek tidak hanya diisi prosesi adat, namun membuka rangkaian kegiatan lebih luas, termasuk melibatkan petani sebagai Bregodo Tani.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan secara prinsip esensi prosesi Hari Jadi Trenggalek dari tahun ke tahun tidak banyak berubah. Namun, ada bagian yang dilengkapi maupun dikemas berbeda pada tahun ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pada esensinya tidak ada yang berbeda, tapi kalaupun ada doa yang kita panjatkan kita lengkapi,” ucap Mas Ipin saat menjelaskan rangkaian prosesi setelah pelaksanaan jamasan pusaka, Sabtu (29/8/2026).
Salah satu pembeda terlihat dalam prosesi metri bumi. Jika pada tahun sebelumnya prosesi tersebut telah dilaksanakan, tahun ini Bupati secara khusus meminta agar pohon yang ditanam adalah beringin.
Dijelaskan Bupati Trenggalek, pemilihan pohon beringin memiliki makna doa agar seluruh keinginan baik masyarakat dapat direngkuh.
“Contoh seperti metri bumi, tahun lalu sudah dilaksanakan. Tapi spesifik saya minta yang ditanam Beringin. Artinya rinengkuh sarwo engkang dipingin,” jelasnya.
Selain beringin, pohon Sawo Kecik juga menjadi bagian dari simbol yang disiapkan. Mas Ipin menjelaskan, Sawo Kecik dimaknai sebagai harapan agar seluruh hal yang dilakukan memberikan hasil yang baik.
“Terus kemudian nanamnya Sawo Kecik. Harapannya seluruh yang dilakukan ini nanti hasilnya sarwo becik. Semuanya jadi baik,” katanya.
Petani Dilibatkan sebagai Bregodo Tani
Pelibatan masyarakat menjadi salah satu penekanan dalam Hari Jadi Trenggalek ke-832. Masyarakat, khususnya petani, akan dilibatkan sebagai prajurit tradisional atau Bregodo Tani.
Konsep itu sekaligus dikaitkan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto terhadap swasembada pangan nasional. Petani dinilai memiliki peranan penting dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan.
Selain menjadi bagian dari Bregodo, para petani juga akan mendapat pesan khusus melalui Sabdotomo yang disampaikan Pemerintah Kabupaten Trenggalek.
Rangkaian prosesi juga akan dilengkapi dengan Tiban atau tradisi meminta hujan. Mas Ipin menyebut Tiban menjadi bagian dari doa yang berkaitan dengan keberlangsungan pertanian, khususnya ketersediaan air.
“Tiban termasuk ujub, karena Bergodo Tani keluar semua. Beliau menunjukkan doa, semoga hasil pertanian semoga bisa dapat bagus. Salah satunya ditunjang dari ketersediaan air yang cukup,” ujarnya.
Konsep keterbukaan juga memungkinkan masyarakat menyaksikan prosesi dari jarak lebih dekat.
Warga bahkan dipersilakan duduk bersama Bregodo dan menikmati berbagai suguhan yang disiapkan selama rangkaian kegiatan.
“Yang hari jadi dibuka untuk umum. Monggo nanti silahkan menyesuaikan diri. Duduk nanti bareng bersama Bergodo-Bergodo yang ada. Lenggah di sini, bisa nderek menikmati suguhan yang ada,” kata Mas Ipin.
Selain Tiban, masyarakat juga dapat menikmati kegiatan lain sambil menunggu pagelaran wayang kulit dengan lakon Wahyu Makutho Rama yang dibawakan Ki Purbo Asmoro.
Pemkab Trenggalek juga menyiapkan panjat pinang sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
Dalam prosesi tersebut, masyarakat juga akan mendapat kesempatan menikmati tumpeng bersama. Selain Tumpeng Paes Agung, disiapkan sejumlah tumpeng kecil yang nantinya dapat dipurak atau dinikmati masyarakat.
Kirab Pusaka dan 11 Ribu Udik-Udik
Keterbukaan prosesi juga dimulai sejak kirab pusaka. Masyarakat dapat menyaksikan kirab di sepanjang rute yang telah ditentukan. Dalam perjalanan tersebut, Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek juga akan membagikan bibit pohon serta Udik-Udik kepada masyarakat.
Khusus Udik-Udik, Pemkab Trenggalek menyiapkan sebanyak 11 ribu kantong untuk dibagikan kepada masyarakat.
Mas Ipin mengatakan jumlah tersebut bukan sekadar angka, tetapi memiliki makna simbolis sebagai doa agar masyarakat mendapatkan kawelasan atau pertolongan dari Allah melalui para malaikat.
“Harapannya bisa lebih baik lagi dan jumlah Udik-Udik yang disebar juga lebih banyak. Kita menyiapkan 11 ribu kantong. 11 ribu artinya kawelasan saking malaikat sing jumlahe ewon-ewon,” jelasnya.
“Jadi semoga dapat kawelasan dari Allah melalui para malaikatnya yang ribu-ribuan itu. Harapannya nanti memberikan pertolongan, ditugaskan untuk menjaga kita,” tandasnya.
Pembeda lainnya hadir dalam hidangan yang disiapkan dalam prosesi, yakni bunga Bougenville.
Mas Ipin memaknai bunga tersebut sebagai simbol keteguhan menghadapi kesulitan karena tetap mekar ketika menghadapi kondisi yang tidak mudah.
“Karena simbol Bunga Bogenfil itu dia mekar ketika tersakiti, mekar dikala kesulitan. Saya yakin semua orang di sini itu banyak yang mengalami kesulitan, ujian, tetapi pesannya adalah kita harus tetap mekar karena percaya bahwa Tuhan akan selalu memberikan pertolongan,” pungkasnya.






