RagamWarta.com – Hasil uji lab MBG Trenggalek terhadap sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan menemukan dua jenis bakteri.
Bakteri Bacillus cereus ditemukan pada sampel nasi putih, sedangkan Escherichia coli (E. coli) ditemukan pada semangka.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Sunarto, mengatakan hasil pemeriksaan tersebut dilakukan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hasil pemeriksaan diterima Satgas MBG pada 24 Agustus 2026, meski surat hasil pemeriksaan tertanggal 20 Agustus 2026.
“Untuk hasil lab dari BBLK Surabaya kita terima tanggal 24 Agustus kemarin, meskipun suratnya tertanggal 20 Agustus,” kata Sunarto, Rabu (26/8/2026).
Sampel yang diperiksa berasal dari sejumlah menu MBG yang dibagikan SPPG Tamanan. Menu tersebut meliputi nasi putih, ayam sambal kacang, cah bayam dan jagung, tahu fantasi, serta semangka.
Bacillus cereus Ditemukan pada Nasi Putih
Dari seluruh sampel yang diperiksa, Bacillus cereus ditemukan pada nasi putih.
Menurut Sunarto, bakteri tersebut sebenarnya dapat ditemukan secara alami di tanah maupun lingkungan dan dapat terbawa dalam bentuk spora pada beras.
“Yang kami temukan ada permasalahan di nasi putihnya, karena mengandung Bacillus cereus. Bakteri ini sebenarnya banyak ditemukan secara alami di tanah dan lingkungan, termasuk bisa terbawa dalam bentuk spora pada beras,” ujarnya.
Sunarto menjelaskan, spora Bacillus cereus dapat bertahan terhadap proses pemanasan tertentu.
Risiko gangguan kesehatan dapat meningkat apabila nasi yang telah matang tidak segera dikonsumsi dan dibiarkan terlalu lama pada suhu yang memungkinkan bakteri berkembang.
“Kalau makanan dibiarkan terlalu lama, spora tersebut bisa berkembang dan berisiko menimbulkan gangguan pada orang yang mengonsumsinya. Karena itu, makanan sebaiknya segera dikonsumsi dan tidak dibiarkan berjam-jam pada suhu ruang,” jelasnya.
E. Coli Ditemukan Pada Sampel Semangka
Sunarto menyebut keberadaan bakteri tersebut dapat berkaitan dengan persoalan higiene dan sanitasi, baik dari penjamah makanan, air, peralatan, maupun proses pemotongan dan penyajian buah.
“Kalau E. coli ini lebih berkaitan dengan kontaminasi dari penjamah makanan atau alat yang digunakan. Bisa dari tangan, air, maupun pisau yang sebelumnya digunakan untuk bahan lain kemudian dipakai memotong semangka tanpa proses pencucian yang baik,” terangnya.
Menurut Sunarto, temuan tersebut juga dinilai sejalan dengan keluhan yang dialami sejumlah penerima MBG saat kejadian, seperti mual, muntah, sakit perut hingga diare.
Meski demikian, sampel menu lainnya yang diperiksa tidak menunjukkan adanya bakteri ketika masih berada di SPPG. Persoalannya, pemeriksaan dilakukan setelah kejadian dan sampel yang tersedia sudah berusia sekitar dua hari.
“Menu yang lain tidak ditemukan kuman ketika sampelnya masih berada di SPPG. Persoalannya, kejadian baru diketahui pada hari berikutnya, sehingga makanan yang menjadi sampel sudah berusia sekitar dua hari,” katanya.
Dugaan gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG sebelumnya terjadi pada Rabu (12/8/2026), setelah menu dibagikan sehari sebelumnya, Selasa (11/8/2026).
Keluhan dilaporkan terjadi pada penerima manfaat yang mendapatkan makanan dari SPPG Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah.
Berdasarkan pendataan Satgas MBG Trenggalek, keluhan tercatat di SMPN 1 Trenggalek, SDI Luqman Al Hakim, serta sejumlah posyandu di Kelurahan Tamanan. Total penerima manfaat yang dilaporkan mengalami keluhan mencapai 549 orang.
SPPG Tamanan sendiri melayani distribusi MBG untuk 11 sekolah dan satu posyandu dengan total sekitar 2.089 penerima manfaat. Setelah kejadian tersebut, operasional SPPG dihentikan sementara sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Hasil uji lab MBG Trenggalek tersebut selanjutnya menjadi bahan evaluasi Satgas MBG bersama pihak terkait terhadap proses pengolahan dan distribusi makanan di SPPG Tamanan.






