RagamWarta.com – Jamasan manuskrip kuno menjadi tradisi yang masih dijaga oleh Harmadji, warga Desa Pogalan, Kecamatan Pogalan, setiap datang bulan Sura atau Muharam.
Tidak hanya keris dan tombak, naskah-naskah kuno koleksinya juga dibersihkan secara khusus sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur.
Menurut Harmadji, jamasan bukan sekadar membersihkan benda pusaka, tetapi juga merawat manuskrip yang menyimpan berbagai pengetahuan penting.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mulai dari ilmu fikih, tafsir hingga nahu yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Yang saya jamas bukan hanya keris atau tombak, tapi juga manuskrip kuno. Karena di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan seperti fikih, tafsir, hingga nahu yang harus dijaga dan diwariskan,” ujarnya saat ditemui di kediamannya.
Perawatan Manuskrip Berbeda dengan Pusaka
Harmadji menjelaskan, manuskrip kuno yang dimilikinya sebagian ditulis di atas kertas Eropa dan sebagian lagi menggunakan kertas daluang yang berasal dari kulit kayu.
Naskah-naskah tersebut ditulis menggunakan huruf Arab kuno dan memuat beragam keilmuan.
Berbeda dengan pusaka berbahan logam yang dijamas menggunakan air kembang setaman dan jeruk nipis, manuskrip dirawat dengan cara yang jauh lebih hati-hati.
“Kalau manuskrip cukup dibersihkan dengan kuas kecil, lalu diangin-anginkan. Tidak boleh sembarangan karena rentan rusak,” ucap pria yang kesehariannya mengajar di SMA 2 Trenggalek itu.
Pihaknya juga menjelaskan bahwa, inti tradisi jamasan adalah melakukan perawatan secara berkala terhadap benda-benda bersejarah agar kondisinya tetap terjaga, bukan sekadar ritual yang identik dengan bulan Sura.
“Jamasan itu intinya membersihkan dan merawat secara berkala. Ini bentuk syukur sekaligus menjaga peninggalan para leluhur,” tegas Harmadji.
Dorong Manuskrip Kuno Didata dan Didigitalisasi
Selain merawat koleksi manuskrip, pria yang juga menjabat Wakil Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Jawa Timur tersebut juga mengajak masyarakat yang masih menyimpan naskah kuno agar tidak menyembunyikannya.
Ia menyarankan manuskrip didata melalui perpustakaan daerah maupun Perpustakaan Nasional agar dapat diidentifikasi sekaligus didigitalisasi.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar isi naskah tetap dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi mendatang tanpa harus mengorbankan kondisi fisik manuskrip yang rentan rusak.
“Naskah kuno jangan disembunyikan. Harus didata, diidentifikasi, dan didigitalisasi supaya ilmunya tetap bisa diwariskan,” pungkasnya.






