RagamWarta.com – Bantuan air bersih Trenggalek kembali disalurkan kepada warga Desa Sambirejo, Kecamatan/Kabupaten Trenggalek, yang terdampak kekeringan. Sebanyak 60 kepala keluarga (KK) di tiga RT mengandalkan pasokan air tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama musim kemarau.
Bantuan tersebut disambut antusias warga. Sejumlah tandon, galon, hingga bak penampungan telah disiapkan di depan rumah untuk menampung air yang dikirim menggunakan mobil tangki.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah seorang warga RT 14/RW 05 Desa Sambirejo, Siti Muawanah (38), mengaku terbantu dengan distribusi air bersih tersebut. Menurutnya, persediaan air mulai menipis sejak pertengahan Agustus 2026, terutama untuk kebutuhan rumah tangga seperti mencuci.
“Senang tentu mendapatkan bantuan air bersih ini. Sejak pertengahan Agustus, persediaan air mulai menipis dan semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Siti.
Ia menyebut satu tandon yang digunakan bersama oleh dua rumah hanya mampu mencukupi kebutuhan sekitar satu pekan. Karena itu, ia berharap distribusi air bersih tetap dilakukan selama kondisi kemarau belum berakhir.
“Kalau bisa penyalurannya ditambah karena musim kemarau masih berlangsung dan kebutuhan air warga cukup banyak,” ujarnya.
Kepala Desa Sambirejo Karyanto, yang akrab disapa Kartolo, mengatakan kekeringan saat ini dirasakan sekitar 60 KK yang tersebar di RT 9, RT 14, dan RT 15.
Menurutnya, Pemerintah Desa Sambirejo telah mengajukan permintaan bantuan air bersih kepada BPBD Trenggalek sebanyak lima kali. Setiap pengiriman, air yang diterima mencapai sekitar 6.000 liter.
“Untuk pengajuan bantuan, sejauh ini sudah lima kali. Setiap kali pengiriman, air yang datang sekitar 6.000 liter,” jelas Karyanto.
Karyanto menuturkan, keluhan kekurangan air sebenarnya mulai muncul sejak awal Agustus. Kondisi kemudian semakin parah memasuki pekan kedua Agustus ketika sejumlah sumber air warga mulai berkurang.
Persoalan tersebut bukan kali pertama terjadi. Setiap musim kemarau, tiga wilayah RT tersebut menjadi kawasan yang kerap mengalami kesulitan air bersih.
“Memang setiap musim kemarau tiga RT ini menjadi wilayah yang mengalami persoalan kekurangan air. Tahun ini kondisinya kembali terjadi,” ungkapnya.
Sejumlah sumur warga bahkan mulai mengering. Sumur dengan kedalaman sekitar 20 meter disebut sudah tidak lagi menghasilkan air, sementara sumber yang masih bertahan umumnya berasal dari sumur bor.
“Untuk sumur dengan kedalaman sekitar 20 meter rata-rata sudah tidak ada air. Yang masih bisa digunakan kebanyakan sumur bor,” terangnya.
Pemdes Sambirejo sebelumnya mengajukan bantuan dengan kebutuhan sekitar 10 ribu liter dalam sekali pengiriman. Namun, kapasitas kendaraan tangki yang tersedia membuat jumlah air yang diterima warga sekitar 6.000 liter.
“Permintaannya sebenarnya sekitar 10 ribu liter, tetapi kapasitas tangki yang tersedia 6.000 liter. Setelah ini Insyaallah masih ada pengiriman berikutnya,” kata Karyanto.
Penyaluran air selanjutnya akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Pemdes Sambirejo akan kembali mengajukan bantuan apabila warga melaporkan tandon mereka telah kosong.
“Kami menyesuaikan dengan kondisi warga. Kalau tandon sudah kosong dan ada laporan, kami akan kembali mengajukan pengiriman air ke BPBD,” imbuhnya.
Selain berharap kemarau segera berakhir, Pemdes Sambirejo menyiapkan langkah lain untuk menghadapi persoalan kekeringan yang berulang setiap tahun. Salah satunya dengan menambah jumlah tandon untuk memperkuat ketersediaan tempat penyimpanan air bagi warga.
“Harapan kami kemarau segera berakhir. Pemerintah desa juga berencana menambah tandon sebagai salah satu upaya menangani persoalan kekeringan,” pungkas Karyanto.






