RAGAM WARTA – Bencana tanah gerak kembali teror warga Trenggalek. Kali ini tanah gerak rusak belasan rumah warga di Dusun Sobo, Desa Ngerdani, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Bahkan warga terpaksa mengungsi tatkala hujan deras, karena takut jika rumahnya roboh.
Seperti penjelasan Kepala Dusun Sobo, Komarudin bahwa sebenarnya tanah gerak mulai terasa pada Oktober 2022 , akan tetapi belum begitu parah. Tanah kembali terasa bergerak pada awal Februari 2023, tatkala hujan deras mengguyur area Ngerdani beberapa hari berturut-turut.
Akibatnya 11 rumah warga mengalami retak pada dinding dan 3 diantaranya rusak parah. Bahkan bencana tanah gerak sempat putuskan jalan penghubung antar desa. Bahkan diketahui, radius kerusakan yang ditimbulkan tanah gerak mencapai 500 meter.
“Totalnya ada 11 rumah yang mengalami kerusakan. Bahkan 3 diantaranya mengalami kerusakan yang cukup parah. Sementara untuk Kepala Keluarga yang terdampak totalnya ada 14 KK,” ungkap Komarudin, Sabtu (4/3/2023).
Komarudin menambahkan bahwa beberapa orang yang terdampak tanah gerak lebih memilih meninggalkan kediamannya. Ada juga yang masih memiliki bertahan dirumah, namun mengungsi tatkala turun hujan.
“Bencana tanah gerak seakan hantui ketenangan warga. Bahkan ada sebagian yang sudah meninggal rumahnya begitu saja, ada juga yang mengungsi jika turun hujan,” ungkap Kepala Dusun Sobo, Desa Ngerdani ini.
Pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten Trenggalek segera turun tangan. Pasalnya beberapa rumah warga sudah tidak bisa diperbaiki. Hal tersebut dikarenakan pergeseran tanah semakin meluas ketika turun hujan.
“Kami berharap Pemerintah segera merespon harapan masyarakat Ngerdani, khususnya yang terdampak bendera tanah gerak. Harapan kami Pemerintah bisa mencarikan tanah baru yang lebih aman bagi warga terdampak,” harap Komarudin.
Sementara itu, salah satu warga terdampak yang bernama Parjan mengaku hanya bisa pasrah mengalami bencana semacam ini. Menurutnya rumah sudah tidak bisa diperbaiki, karena pergeseran tanah semakin lebar.
“Ketika turun hujan, bisa kami rasakan tanah itu seakan merobek tembok dan atap rumah kami. Tanah bergerak terjadi ketika turun hujan. Kami sekeluarga saat ini terpaksa mengungsi ke rumah sanak saudara,” keluh Parjan.






