RagamWarta.com – Wilayah pesisir selatan Kabupaten Trenggalek tidak hanya memiliki sentral ekonomi, dan pariwisata yang cantik. Nyatanya, pesisir Trenggalek menyimpan potensi gempa bumi dan tsunami.
Hal itu dikarenakan wilayah selatan pulau Jawa dilewati Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, yang artinya ada pertemuan tiga lempeng tektonik. Jalur pertemuan lempeng yang berada di laut bisa mengakibatkan gempa bumi besar dengan kedalaman dangkal dan berpotensi tsunami.
Sesuai data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 17 desa di tiga kecamatan yang berpotensi terdampak tsunami. Tiga kecamatan tersebut adalah Kecamatan Watulimo, Munjungan dan Panggul.
Menyikapi hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek menentukan titik aman untuk evakuasi apabila terjadi bencana di Wilayah Pantai Konang, Kecamatan Panggul.
“Kami menandai lokasi evakuasi aman menggunakan blue line tsunami safe zone. Di situ adalah titik yang betul-betul aman dari tsunami,” jelas Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek St Triadi Atmono, Rabu (26/6/2024).
Dijelaskan Triadi, zona aman bencana tsunami diasumsikan berada pada jarak 4-5 km dari bibir pantai. Sementara tsunami sendiri diperkirakan terjadi 10 hingga 20 menit pasca terjadi gempa bumi besar.
Triadi menegaskan bahwa blue line tsunami safe zone yang digagas Pemkab Trenggalek merupakan yang pertama ada di Provinsi Jawa Timur. Kalaksa BPBD Trenggalek itu juga menjelaskan proses evakuasi saat terjadi tsunami memerlukan respon time 20-20-20.
“Jalur evakuasi kurang lebih dengan rumus 20 detik, 20 menit dan 20 meter. Karena hal ini dibutuhkan untuk menuju tempat evakuasi sementara dan tempat evakuasi aman,” terangnya.
Selain menandai titik evakuasi aman, mereka juga melakukan pemasangan rambu-rambu jalur evakuasi. Pemasangan tersebut dilakukan pada beberapa titik, yakni lima rambu di Pantai Konang, 12 Rambu di Pantai Kili-kili, 6 rambu di Pantai Pelang dan 3 rambu di Jalur Lintas Selatan (JLS).
“Tidak ada yang berharap terjadi bencana, tapi mitigasi itu penting. Pasalnya dengan mengetahui cara melakukan mitigasi diyakini dapat mengurangi resiko paling parah saat bencana tsunami,” pungkasnya.






