RagamWarta.com – Nampaknya masih banyak masyarakat Trenggalek yang belum memahami prosedur pencegahan kebakaran. Padahal kebakaran merupakan insiden yang dapat diantisipasi.
Mengutip data Satuan Polisi Pamong Praja dan Kebakaran (Satpol PPK) Trenggalek, tercatat ada 84 insiden kebakaran sepanjang tahun 2024 hingga pekan pertama Desember.
Ironisnya, dari catatan tersebut Oktober menjadi bulan dengan jumlah kebakaran paling banyak, yaitu 17 kejadian.
Burhannudin selaku Kepala Seksi Penyelamatan Kebakaran dan Non Kebakaran menjelaskan bahwa penyebab utama kebakaran berasal dari faktor kelalaian manusia yang mencapai 55 kasus.
Selain itu, ada korsleting listrik yang tercatat sebagai penyebab dalam 26 insiden, sementara kebocoran gas menyumbang 3 kasus.
“Bulan Oktober menjadi puncak tertinggi kejadian kebakaran,” ujar Burhannudin pada Senin (9/12/2024).
Dari berbagai jenis objek yang terbakar, rumah tinggal menjadi yang paling sering terdampak. total ada 27 kasus.
Selain itu, tempat usaha mengalami 15 kasus kebakaran, hutan atau lahan sebanyak 13 kasus, dan kandang ternak mencatat 7 insiden.
“Kebakaran juga menimpa kendaraan dengan 6 kasus, pohon 10 kasus, kabel listrik 5 kasus, serta satu kasus kebakaran di gedung perkantoran,” jelas Burhannudin.
Pihaknya juga menjelaskan bahwa kebakaran di Trenggalek tidak hanya menyebabkan kerugian material senilai Rp 2,33 miliar, tetapi juga menelan korban jiwa dengan lima orang dilaporkan terdampak.
“Besarnya dampak ini membuat petugas pemadam kebakaran terus mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam menangani potensi bahaya di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Burhannudin menekankan akan pentingnya langkah pencegahan, khususnya dalam aktivitas pembakaran sampah.
“Jangan membakar sesuatu saat angin kencang dan jauhkan dari benda yang mudah terbakar. Pastikan bara api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi,” tegas Burhanuddin.
Selain itu pihaknya juga menghimbau masyarakat untuk memeriksakan instalasi listrik secara berkala. Pasalnya peralatan listrik harus dalam kondisi baik untuk menghindari resiko korsleting.
“Dengan tingginya angka kebakaran di Trenggalek, kesadaran masyarakat menjadi faktor utama dalam menekan risiko kejadian serupa di masa yang akan datang,” pungkasnya.






