RagamWarta.com – Rentetan bencana hidrometeorologi yang telah melanda Kabupaten Trenggalek dalam tanggal 14 hingga 25 Mei 2025 menyisakan duka mendalam.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat total ada 58 kejadian bencana yang tersebar di 78 titik pada 13 kecamatan dan 51 desa/kelurahan.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono menjelaskan bahwa curah hujan dengan intensitas ringan hingga tinggi yang berlangsung lebih dari sepekan menjadi pemicu utama.
“Selama periode tersebut terjadi 34 kejadian tanah longsor, 20 titik banjir, dan 4 kejadian cuaca ekstrem. Ini semua akibat cuaca ekstrem yang cukup lama melanda wilayah Trenggalek,” ungkap Triadi, Sabtu (25/5/2025).
Parahnya, dampak bencana dipertengahan tahun 2025 ini tidak hanya merusak permukiman warga. Infrastruktur penting seperti jalan, jembatan, sekolah, irigasi, dan talud juga turut terdampak.
“Berdasarkan data yang berhasil kami himpun, sedikitpun terdapat 60 rumah warga mengalami rusak ringan, 2 rumah rusak sedang, dan 6 rumah mengalami rusak berat,” jelas Triadi.
Tragisnya lagi, enam warga meninggal dunia akibat tanah longsor. Satu sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat, sementara sejumlah fasilitas publik lainnya rusak dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Sesuai data BPBD Trenggalek, Kecamatan Panggul menjadi wilayah dengan kejadian bencana terbanyak, yakni 10 titik longsor.
Menyusul kemudian Kecamatan Munjungan dengan 8 titik, serta Kecamatan Bendungan yang tercatat ada 4 kejadian longsor, 4 banjir, dan 1 cuaca ekstrem.
Banjir juga melanda Kecamatan Gandusari dan Trenggalek dengan masing-masing 4 titik kejadian.
Dalam upaya penanggulangan, BPBD Trenggalek mengklaim telah bersinergi dengan TNI, Polri, relawan, serta perangkat desa.
Mereka terlibat dalam evakuasi, pembersihan material longsor, pendistribusian bantuan logistik, hingga pendirian dapur umum di lokasi terdampak.
“BPBD terus melakukan asesmen dan koordinasi lintas sektor agar penanganan bisa lebih cepat dan merata. Kami juga mengimbau masyarakat tetap waspada, karena potensi cuaca ekstrem masih cukup tinggi dalam beberapa hari ke depan,” tutup Triadi.






