Hambeging Bumi Jadi Tema Hari Jadi Trenggalek ke-832, Bupati Ajak Kembali Membumi

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Trenggalek Muchamad Nur Arifin didampingi sang istri memasuki area Pendopo usai kirap pusaka sambil jalan kaki.

Bupati Trenggalek Muchamad Nur Arifin didampingi sang istri memasuki area Pendopo usai kirap pusaka sambil jalan kaki.

RagamWarta.com – Puncak Hari Jadi Trenggalek ke-832 berlangsung dengan nuansa berbeda.

Mengusung tema Hambeging Bumi, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengajak seluruh pimpinan dan masyarakat untuk memaknai peringatan hari jadi dengan kembali membumi serta memperkuat semangat pengabdian kepada daerah.

Prosesi Hari Jadi Trenggalek ke-832 digelar pada Senin (31/8/2026).Prosesi puncak perayaan diawali dengan kirab pusaka dan berakhir di Pendopo Manggala Praja Nugraha.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam rangkaian prosesi tersebut, Bupati bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan masyarakat mengikuti kirab dengan berjalan kaki.

Bagi Mochamad Nur Arifin, berjalan kaki dan mengikuti prosesi secara langsung menjadi bagian dari upaya memaknai tema Hambeging Bumi.

Bahkan, sejumlah pimpinan daerah turut berjalan tanpa alas kaki di tengah cuaca panas.

“Temanya Hambeging Bumi, kita berusaha menyifati seperti sifatnya Bumi, kembali ke Bumi. Ya, tadi dilakukan secara membumi, semuanya jalan mengikuti prosesi kirab,” ujar Mochamad Nur Arifin.

Ia mengapresiasi jajaran Forkopimda yang turut mengikuti prosesi dengan bertelanjang kaki dan berpanas-panasan. Menurutnya, hal tersebut diharapkan menjadi laku tirakat bagi seluruh pimpinan di Kabupaten Trenggalek.

“Saya juga berterima kasih tadi Forkopimda tiba-tiba ikut semua bertelanjang kaki, ya, berpanas-panasan. Ya, semoga jadi laku tirakatnya seluruh pimpinan,” katanya.

Menurut Bupati, pengalaman tersebut juga dapat dimaknai sebagai gambaran perjuangan yang harus ditempuh para pemimpin dalam membangun Trenggalek.

Panas dan beratnya perjalanan menjadi simbol bahwa pembangunan membutuhkan perjuangan yang lebih gigih.

“Kalau mau jalan panas-panasan berarti mau menempuh perjuangan yang lebih gigih lagi untuk bisa membangun Trenggalek,” ujarnya.

Nuansa Maulid dan Sedekah dalam Prosesi Hari Jadi

Peringatan Hari Jadi Trenggalek ke-832 tahun ini juga berlangsung bertepatan dengan bulan Maulid. Karena itu, rangkaian prosesi turut diwarnai nuansa keagamaan dengan pembacaan Mahalul Qiyam.

Bupati mengatakan, pembacaan tersebut menjadi bagian dari harapan agar kecintaan dan keteladanan kepada Rasulullah hadir dalam kehidupan sehari-hari.

“Karena bulan ini bertepatan dengan bulan Maulid ya, jadi kita tadi juga mengharapkan kehadiran Rasulullah di hati kita, di setiap keseharian kita. Makanya kita tadi membaca Mahalul Qiyam di tengah prosesi hari jadi,” jelasnya.

Selain itu, prosesi juga diisi dengan penyebaran udik-udik sebagai bagian dari tradisi sedekah. Antusiasme masyarakat membuat berbagai bagian dari prosesi yang semula disiapkan untuk rangkaian acara langsung mendapat sambutan warga.

Salah satunya tumpeng yang dibawa dalam prosesi. Bupati menjelaskan, tumpeng besar tersebut berisi nasi dan sayuran, sementara tumpeng-tumpeng kecil lainnya juga dibawa oleh masyarakat sebagai bagian dari sedekah.

Antusiasme warga bahkan membuat tumpeng dan bagian lain dari prosesi langsung diperebutkan masyarakat sebelum seluruh rangkaian prosesi selesai.

“Kalau dari sisi prosesi tadi belum didoakan sudah dipurak oleh masyarakat. Tapi enggak apa-apa, memang tujuannya semuanya demi keberkahannya masyarakat,” kata Mochamad Nur Arifin.

Ia menyebut kebahagiaan masyarakat menjadi bagian penting dari peringatan Hari Jadi Trenggalek ke-832. Karena itu, berbagai bentuk partisipasi masyarakat dalam prosesi tersebut dimaknai sebagai bagian dari kebersamaan.

“Selama masyarakat senang, bahagia hari ini, apa pun yang dikerso sama masyarakat, ya, kita ikut berbahagia,” ujarnya.

Keterlibatan masyarakat juga terlihat dari kehadiran Bergodo Tani. Para petani membawa hasil pertanian seperti kacang panjang dan terong, serta sejumlah perlengkapan pertanian dalam kirab.

Bupati mengatakan, keikutsertaan para petani tersebut merupakan bentuk sedekah sekaligus ungkapan harapan di tengah kondisi pertanian yang membutuhkan ketersediaan air.

Ia berharap doa dan sedekah yang dilakukan masyarakat dapat membawa keberkahan, termasuk turunnya hujan yang memberikan manfaat bagi pertanian di Trenggalek.

“Semoga Allah memberikan rezekinya berupa hujan yang berkah, yang membawa manfaat untuk kita semua,” ucapnya.

Dalam doa untuk bangsa, Bupati juga berharap Indonesia menjadi negeri yang aman, tenteram, dan mendapat ridha Tuhan.

“Insyaallah biladana Indonesia, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Ya, semoga jadi negeri aman tenteram dan yang paling penting rabbun ghafur, negeri yang diridhoi oleh Allah,” pungkasnya.

Berita Terkait

Hari Jadi Trenggalek ke-832 Lebih Terbuka, Libatkan Petani dan Siapkan 11 Ribu Udik-Udik
Kirab Pusaka Trenggalek Dibagi 2, Milik Bupati ke Karangrejo, Kabupaten ke Kamulan
Lestarikan Warisan Leluhur lewat Jamasan Manuskrip Kuno
Nyadran Dam Bagong 2026, Mas Ipin: Semoga Diberi Rezeki Lumintu
Objek Diduga Cagar Budaya di Trenggalek Berinskripsi 1168 M Ditemukan Tak Sengaja Saat CFD
Tak Hanya Doa Bersama, Megengan di Masjid Ar-Ridlo Kedunglurah Diisi Lomba Anak
Longkangan di Teluk Sumbreng Tambah Deretan Warisan Budaya Takbenda Asal Trenggalek
Pameran Jaranan Meriahkan Festival Jaranan Trenggalek 2025

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:05 WIB

Hambeging Bumi Jadi Tema Hari Jadi Trenggalek ke-832, Bupati Ajak Kembali Membumi

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:03 WIB

Hari Jadi Trenggalek ke-832 Lebih Terbuka, Libatkan Petani dan Siapkan 11 Ribu Udik-Udik

Minggu, 30 Agustus 2026 - 14:01 WIB

Kirab Pusaka Trenggalek Dibagi 2, Milik Bupati ke Karangrejo, Kabupaten ke Kamulan

Kamis, 23 Juli 2026 - 17:13 WIB

Lestarikan Warisan Leluhur lewat Jamasan Manuskrip Kuno

Jumat, 8 Mei 2026 - 15:01 WIB

Nyadran Dam Bagong 2026, Mas Ipin: Semoga Diberi Rezeki Lumintu

Berita Terbaru