RagamWarta.com – Ada yang berbeda dalam prosesi kirab pusaka saat Hari Jadi Trenggalek yang ke-831 ini. Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin pimpin perjalanan kirab sejauh 3,5 kilometer dengan berjalan kaki tanpa alas kaki.
Tidak hanya jalan kaki, dalam perjalanan Bupati Trenggalek yang akrab disapa Mas Ipin ini juga juga membagikan sedekah kepada warga yang ditemui di sepanjang rute kirab pusaka.
Sedekah yang dibagikan bervariasi, mulai dari bingkisan, hasil bumi seperti buah dan sayur, hingga bibit tanaman. Menurut Arifin, langkah ini diniatkan sebagai sedekah tolak bala agar masyarakat Trenggalek diberi keselamatan, kebahagiaan, dan kelancaran rezeki.
“Sudah, kayak seperti biasanya, niatnya sedekah tolak bala. Doanya semoga semua rejekinya lancar, tentram semuanya, aman. Selamat berbahagia, semoga dilancarkan segala urusannya oleh Yang Maha Kuasa,” ujar Mas Ipin saat menyapa warga.
Rangkaian kirab pusaka ini dimulai setelah prosesi penjamasan pusaka. Pusaka kabupaten diinapkan di Balai Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, sedangkan pusaka milik bupati diinapkan di Balai Desa Karangrejo, Kecamatan Kampak.
Setelah dijamas dan diinapkan semalam, pusaka dikirab kembali menuju Pendopo Manggala Praja Nugraha untuk disimpan kembali.
Adapun rute kirab pusaka tahun ini menempuh perjalanan sekitar 3,5 kilometer. Dimulai dari Kantor Disdikpora, rombongan bergerak ke barat menuju Pasar Pon, lalu ke utara hingga pertigaan Mall Pelayanan Publik.
Sampai di Mall Pelayanan Publik, pusaka dibawa ke barat sedikit hingga ke kantor Polisi Militer lalu dilanjut ke arah perempatan Nirwana hingga Masjid Al-Askar.
Dari sana lalu belok ke selatan menyusuri Jalan Diponegoro hingga Pasar Sore, dan berakhir di Alun-alun Trenggalek sebelum masuk ke Pendopo Manggala Praja Nugraha.
Dalam peringatan Hari Jadi Trenggalek ke 831 ini, Pemerintah Kabupaten Trenggalek mengusung tema “Neng, Ning, Nang” yang bermakna perjalanan manusia dalam memahami tujuan hidup.
Mas Ipin menjelaskan bahwa tema tahun ini merefleksikan konsep Sangkan Paraning Dumadi, yaitu manusia sadar akan asal-usulnya, tujuan hidup, dan tempat kembalinya.
Kirab pusaka dengan jalan kaki dan sedekah ini menjadi simbol doa bersama. Perjalanan panjang Trenggalek di usia ke-831 diharapkan senantiasa mendapat berkah, keselamatan, dan kemenangan bagi seluruh masyarakatnya.






