RagamWarta.com – GMNI Trenggalek soroti pendidikan dalam audiensi bersama Komisi IV DPRD dan Dinas Pendidikan Kabupaten Trenggalek.
Sejumlah persoalan pendidikan diklarifikasi dalam forum ini, mulai dari tingginya tingkat Anak Tidak Sekolah (ATS), banyaknya kekerasan terhadap anak, kejelasan status relawan guru hingga sistem penerimaan murid baru.
Rapat dengar pendapat dipimpin langsung oleh Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek Sukarodin. Dalam kesempatan ini ia mengapresiasi masukan yang disampaikan GMNI terkait persoalan pendidikan di Kabupaten Trenggalek.
“Wajib tentunya kita tanggapi dengan serius dan positif. Ini rumah rakyat, siapapun bisa datang untuk menyampaikan aspirasi. Salah satunya hari ini terima kasih kepada GMNI yang telah menyampaikan banyak hal tadi,” ujarnya.
Dalam forum kali ini, persoalan ATS menjadi salah satu isu utama yang dibahas. Sukarodin mengklaim dalam lima bulan terakhir terdapat 1.167 anak yang berhasil kembali bersekolah.
“Untuk ATS ini lima bulan terakhir perkembangannya bagus. Ada 1.167 anak kembali sekolah. Saya kira ini bukan pekerjaan mudah dan ini mesti kita apresiasi,” katanya, Senin (18/5/2026).
Dijelaskan Sukarodin, mayoritas kasus ATS berada di jenjang SMA yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi. Sementara ATS di tingkat SD dan SMP dinilai masih bisa ditangani pemerintah daerah.
Selain ATS, GMNI Trenggalek juga menyoroti persoalan sarana prasarana pendidikan dan akses menuju sekolah yang dinilai perlu perhatian lebih agar siswa merasa nyaman saat belajar.
“Terkait akses menuju sekolah, memang kita masih belum maksimal. Ini semata-mata karena kemampuan keuangan kita masih seperti ini. Saya kira ini bukan hanya Trenggalek, tapi secara nasional kondisinya juga begitu,” ungkapnya.
Senada dengan Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek, Kepala Dinas Pendidikan Trenggalek Agus Dwi Karyanto juga menyampaikan terima kasih atas perhatiannya terhadap dunia pendidikan.
“Saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada teman-teman GMNI yang telah menyampaikan masukan atas beberapa hal yang harus disikapi terkait penyelesaian pendidikan kita baik di tingkat nasional maupun daerah, khususnya Kabupaten Trenggalek,” ujarnya.
Agus juga menyinggung persoalan kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah. Pihaknya menegaskan Dinas Pendidikan akan membentuk kelompok kerja khusus untuk menciptakan budaya sekolah aman dan nyaman.
“Akhir bulan ini kita akan membentuk Pokja terkait budaya sekolah aman dan nyaman. Insyaallah Pokja ini akan bertugas menyelesaikan semua bentuk kekerasan terhadap anak,” jelasnya.






