Inilah hari sejarah yang mengindonesiakan Indonesia yang dikenal dengan Indonesianisasi. Julukan itu diberikan saat seminar yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia. Seminar itu berlangsung sejak tanggal 14 sampai 18 Desember tahun 1957 di Yogyakarta. Sebagaimana dilansir dari situs resmi Kemdikbud.
Tujuan utamanya adalah mengumpulkan berbagai pendapat dan saran- saran. Untuk seterusnya dijadikan bahan pertimbangan untuk menyusun sejarah nasional Indonesia secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Semisal naskah – naskah yang berbahasa Belanda segera dilakukan transliterasi ke bahasa Indonesia.
Langkah pertama yang dilakukan adalah mengarahkan penulisan sejarah yang berdasarkan pada kepentingan dan kebutuhan bangsa dan negara Indonesia dengan sudut pandang nasional. Kedua, orang-orang dan bangsa Indonesia sendiri yang menjadi subjek maupun pembuat sejarah,
Kedudukannya tidak lagi menjadi objek seperti pada historiografi kolonial. Semula tokoh Belanda sebagai pahlawan sementara orang pribumi sebagai penjahat. Kemudian berganti menjadi orang Indonesia sebagai pahlawan dan orang Belanda sebagai penjahat. Walau berganti peran namun alur cerita masih sama dengan kenyataannya.
Corak penulisannya pun mengungkapkan sejarah kehidupan bangsa dan rakyat Indonesia dalam segala aktivitasnya. Baik dari segi politik, ekonomi, sosial, maupun budaya dan agama. Dalam penyusunan terjadi perdebatan sengit saat seminar sejarah disampaikan oleh Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudayaan.
Menurut Klooster Seminar Nasional Sejarah I tahun 1957 secara garis besar adalah,
Pertama, di kalangan sejarawan terdapat ketidakpuasan terhadap penulisan sejarah kolonialistik yang dikembangkan pada masa penjajahan Belanda, karena tidak mengungkapkan vitalitas yang dimiliki masyarakat Indonesia (Klooster, 1985: 23).
Kedua, di kalangan sejarawan berkembang kesadaran perlunya sejarah nasional Indonesia yang nasionalistik, yaitu menempatkan masyarakat Indonesia sebagai pemeran sentral.
Ketiga, terdapat perbedaan pandangan di antara peserta seminar, terutama Soedjatmoko dan Muhammad Yamin, tentang landasan filosofis dan metodologi yang digunakan untuk menyusun sejarah nasional Indonesia (Klooster, 1985: 75-87).
“Pada periode terakhir, yaitu masa demokrasi terpimpin dan orde baru kecenderungan penulisan sejarah lokal dilakukan oleh sejarawan akademik, Seakan ada pemahaman umum bahwa untuk menyusun sejarah nasional yang komprehensif harus memahami sebanyak mungkin sejarah lokal atau daerah. Para sejarawan meneliti berbagai fenomena historis dengan fokus terutama pada kajian sosial ekonomi untuk memperoleh pemahaman pengaruh kolonial terhadap kehidupan masyarakat daerah ” (Klooster, 1985: 121).
Keadaan itu yang menginisiasi acara ”Kongres Sejarah Nasional” pertama di tahun 1957. Pada kongres kedua berganti nama menjadi ”Seminar Nasional Sejarah”. Kongres kedua ini membahas terkait rencana pembuatan buku sejarah Nasional. Dimana dengan adanya buku itu diharapkan bisa menjadi referensi pendidikan sejarah.
(redaksi/Ja’far Shadiq)






