RagamWarta.com – Bahas R-APBD Perubahan, Ketua Komisi II DPRD Trenggalek Mugianto temukan kebocoran pendapatan daerah. Hal ini terungkap saat menggelar rapat kerja dengan Badan Keuangan Daerah (Bakeuda).
Menurut Mugianto, ada kebocoran pendapatan di sektor pajak retribusi dalam pelaksanaan pertambangan galian C atau galian mineral dan non logam yang ada di 19 lokasi pertambangan.
Dijelaskan Mugianto, klarifikasi target pendapatan di tahun 2023 ini dirasa penting karena balal jadi bekal menuju APBD perubahan. Bahkan tak jarang ditemukan target pendapatan yang masih begitu jauh dari harapan.
“Karena potensi peningkatan pendapatan sebenarnya masih memungkinkan, namun ASN kita masih sangat kurang dalam hal etos kerja terutama dalam penertiban pungutan pajak dan retribusi,” ucap Mugianto, Rabu (30/8/2023).
Dijelaskan Mugianto, dalam waktu proses di tahun anggaran 2023 menuju perubahan ini tinggal tersisa 4 bulan lagi. Namun dari target pendapatan yang telah direncanakan masih jauh yakni masih di angka 42 % saja.
Jika dalam realisasi dan pelaksanaan sangat kecil, kemungkinan target pendapatan akan tercapai. Komisi II DPRD Trenggalek sangat menyayangkan hal itu karena petugas pungut dan dinas pengampu kurang maksimal.
“Para ASN kita masih saja kurang dalam etos kerja, padahal hak mereka telah di berikan,” tegas salah satu politisi yang berangkat dari Partai Demokrat ini.
Pihaknya juga menuturkan bahwa hal itu terjadi pada temuan pajak retribusi pada tambang mineral dan non logam, itupun antara pendapatan yang dilaporkan di APBD dinilai tidak masuk akal.
Sesuai data yang diutarakan Mugianto, sedikitnya ada 19 objek tambang galian mineral dan logal yang tengah di eksploitasi saat ini. Namun retribusi galian C sangat minim yang masuk ke daerah.
“Pendapatan harus di kejar dan diseriusi, terutama ASN jangan hanya duduk di meja saja,” tegasnya.
Diimbuhkan Mugianto, dari sisi pendapatan secara umum ada target Rp 297 miliar di tahun 2023, akan tetapi setelah ada klarifikasi hingga bulan agustus ini masih minim yakni pendapatan yang masuk masih di angka Rp 1,4 miliar.
Jika dibandingkan antara pendapatan dan kerusakan jalan akibat galian C sangat timpang.
“Coba mari kita hitung bersama, pendapatan yang masuk sekitar Rp 1,4 miliar setahun, namun ada sebanyak 19 objek tambang yang beroperasi,” pungkasnya.






