RagamWarta.com – Apa yang anda cari dalam hidup ini hingga berlarut-larut dengan kerja terus menerus. Saat merasa hidup dipenuhi dengan masalah mungkin anda perlu intropeksi diri. Cara setiap orang untuk intropeksi hingga mencapai kontemplasi tidak sama. Cobalah berkaca dengan sudut pandang yang berbeda.
Ketika berkontemplasi sendirian dirasa sulit apa salahnya untuk berpindah tempat. Bisa jadi alam (termasuk di dalamnya bumi) adalah sosok ibu yang menerima setiap keluh kesahmu. Dimana perkara sosial telah menyibukkanmu hingga melupakan keberadaan manusia diantara alam.
Sekiranya memang aturan yang dibuat manusia sungguh sangat kompleks. Belum lagi ditambah kerancuan berfikir yang ragu untuk meyakini tindakannya secara kontinyu. Hingga saat menjabarkan tidak bisa menjadi kebenaran dimata etnik, sosial masyarakat, bangsa, negara maupun spiritual sekalipun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika kerangka berfikir mengalami keraguan mungkin semakin banyaknya perbandingan. Bagaimana hasilnya jika dibandingkan dengan alam. Tentu sangat jauh perbandingannya, keberadaan alam sudah berlangsung sangat lama sebelum yang dianggap manusia ada.
Menengok dari paham absurditas maka akan sangat nampak bahwa kehidupan manusia di alam begitu-gitu saja. Taruh saja seperti, dari lahir yang menyusu dilanjutkan belajar merangkak hingga berjalan. Lalu bertemu jodoh untuk seterusnya melahirkan insan manusia kembali. Begitulah perulangan yang terus berlangsung dalam masa waktu yang pendek dibandingkan usia alam semesta.
Itu hanya sebagian dari petunjuk yang diberikan dari kejadian alam. Belum lagi yang nampak dari yang ada di dalamnya seperti peradaban manusia dan makhluk hidup yang telah menjadi sejarah. Betapa kecil permasalahan yang kita alami dibandingkan dengan leluhur yang hidup tanpa bantuan listrik. Masihkah ragu untuk menjalani hidup ini.
Tinggal peran apa yang hendak dipilih untuk kehidupan yang singkat ini. Berkalut dengan masalah yang ternyata hanya sesingkat debu diantara alam raya. Atau menikmati kasih sayang alam yang memperkenankan manusia hidup. Tidak seperti di venus yang terlihat indah namun tidak nyaman untuk manusia.
Mengingat keberadaan bumi yang indah ini masih kita rasakan. Lalu bagaimana dengan generasi mendatang, masihkah mereka ikut merasakan. Sekiranya memperindah alam yang sebenarnya sudah sangat indah untuk manusia bertempat.
Untuk memperoleh perasaan ini banyak tanda yang bisa didapatkan di alam. Seperti, tempat – tempat bentukan alami (hutan, sungai, danau, air terjun, pantai, dll) dan peradaban manusia (rumah, candi, pemakaman, tembikar, alat masak dll).
Bagaimana, masihkah ragu bahwa keberadaan alam sungguh sangat indah untuk ditempati manusia. Sesingkat persepsi dari masalah berubah wabah dengan kisah – kisah indah. Masihkah meragu untuk safari segala keindahan ini, apalagi menorehkan jejak sejarah untuk anak cucu nanti.






