RagamWarta.com – Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menjadi ancaman serius di Kabupaten Trenggalek, khususnya bagi kelompok usia balita (bawah lima tahun).
Berdasarkan data RSUD dr. Soedomo Trenggalek hingga Selasa (7/1/2025), tercatat ada 15 pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) yang tengah menjalani perawatan. Dari jumlah tersebut, ada yang masih berusia enam bulan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa bayi dan balita termasuk kelompok rentan terhadap penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dokter Spesialis Anak RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Dana Sumanti, Sp.A, mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap fase kritis DBD.
“Demam berdarah itu yang mengkhawatirkan di hari sakit kelima. Biasanya, pada fase ini, pasien terlihat membaik, tetapi risiko komplikasi seperti penurunan trombosit justru meningkat,” jelas dr. Dana.
Kasus demam berdarah tahun ini menyebar menyebar di beberapa wilayah di Kabupaten Trenggalek. Ada tiga Kecamatan yang banyak terjangkit DBD.
“Untuk wilayah Kecamatan Trenggalek, Kelurahan Ngantru memiliki kasus terbanyak. Kemudian ada juga di Kecamatan Gandusari dan disusul Kecamatan Dongko,” lanjutnya.
Walaupun masih ada sejumlah pasien yang di rawat, salah satu Dokter Spesialis Anak ini menegaskan bahwa tren DBD pada awal tahun 2025 ini mengalami penurunan.
“Alhamdulillah trennya untuk hari ini sudah makin turun. Lonjakan tertinggi terjadi minggu pada lalu,” ungkapnya.
Selain kelompok balita, data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Trenggalek menunjukkan bahwa usia produktif 15–44 tahun menjadi kelompok paling terdampak.
Yang mana kelompok usia tersebut menyumbang hampir separuh dari total kasus DBD sepanjang 2024.
Menurut Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, dr. Sunarto, lonjakan kasus ini tidak lepas dari siklus lima tahunan DBD serta rendahnya efektivitas Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
“Rendahnya PSN menjadi tantangan utama. Selain itu, musim hujan memicu peningkatan tempat perkembangbiakan nyamuk,” ujar dr. Sunarto.
Merujuk data yang dimiliki Dinkes PPKB Trenggalek, lonjakan kasus mencapai puncaknya pada akhir 2024, dengan total 948 kasus hingga awal Desember.
Angka ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama di tahun 2023 yang hanya mencatat 129 kasus.
Untuk menekan penyebaran DBD, masyarakat diimbau untuk rutin melakukan PSN, terutama di wilayah-wilayah dengan kasus tertinggi seperti Kelurahan Ngantru di Kecamatan Trenggalek, Kecamatan Gandusari, dan Kecamatan Dongko.
Apalagi musim hujan yang masih berlangsung menjadi tantangan tambahan.
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk segera membawa pasien dengan gejala DBD ke fasilitas kesehatan terdekat, terutama jika memasuki hari kelima sakit, guna mencegah komplikasi serius.






