Pesan Ibu Antar Fairuz Jadi Petani Melon Muda di Trenggalek

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fairuz Muntaqo merawat tanaman melon yang dikembangkan dengan sistem greenhouse di Desa Jati, Kecamatan Karangan, Trenggalek.

Fairuz Muntaqo merawat tanaman melon yang dikembangkan dengan sistem greenhouse di Desa Jati, Kecamatan Karangan, Trenggalek.

RagamWarta.com – Sebuah pesan sederhana dari seorang ibu ternyata menjadi titik balik kehidupan M. Fairuz Muntaqo. Kalimat tentang sebidang tanah di belakang rumah itu awalnya terdengar biasa, tetapi justru menjadi petunjuk bagi Fairuz untuk menentukan masa depannya.

 

Kini, lahan tersebut dipenuhi tanaman melon yang tumbuh dalam greenhouse di Desa Jati, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek. Dari tempat itu, pria 29 tahun tersebut membangun usaha pertanian yang sebelumnya sama sekali tidak pernah ia rencanakan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Fairuz bukan langsung memilih menjadi petani setelah menyelesaikan kuliah. Lulusan Jurusan Psikologi UIN Maliki Malang itu sempat bekerja sebagai tenaga perpustakaan di salah satu kampus negeri di Kota Malang.

 

Namun, kehidupan membawanya pulang lebih cepat dari yang diperkirakan. Ketika sang ibu jatuh sakit, Fairuz memilih meninggalkan pekerjaannya dan kembali ke Trenggalek untuk berada lebih dekat dengan keluarga.

 

Kepulangannya ternyata menghadirkan pertanyaan baru. Setelah tidak lagi bekerja di Malang, ia harus mencari cara untuk tetap memiliki penghasilan tanpa harus kembali pergi jauh dari rumah.

 

“Lahan sawah yang ada rata-rata cuma itu saja. Kalau tidak begitu, ya mungkin nyoba kerja jadi karyawan,” ujar Fairuz saat ditemui di lahan melon miliknya.

 

Di tengah pencarian itu, Fairuz kembali mengingat ucapan ibunya. Ada sebidang tanah di belakang rumah yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

 

Sang ibu pernah menyarankan agar tanah tersebut digunakan sebagai tempat bekerja. Pesan itu terasa semakin kuat setelah ibunya meninggal dunia.

 

“Nah, cuma dulu ada wasiat dari Ibu katanya kalau ada lahan sepetak di belakang rumah. Daripada kerja jauh-jauh, mending kerja di belakang rumah,” kenangnya.

 

Fairuz kemudian mulai menghitung kemungkinan yang bisa dilakukan di atas lahan tersebut. Menanam padi dan jagung sempat masuk dalam pikirannya, tetapi ia melihat hasilnya belum tentu sebanding dengan usaha yang dikeluarkan.

 

“Pas baru sampai Ibu meninggal, baru kepikiran enaknya ini lahan buat digarap apa gitu. Kalau padi, jagung itu juga hasilnya saya rasa engga seberapa,” tuturnya.

 

Dari situlah perhatian Fairuz beralih kepada tanaman buah. Ia melihat komoditas buah mempunyai pasar yang lebih luas dan peluang penjualan yang menurutnya cukup menarik.

 

Momentum tersebut datang sekitar 2020. Setelah pandemi Covid-19, Fairuz mulai mencoba menanam melon dan perlahan memasuki dunia pertanian yang sebelumnya sama sekali asing baginya.

 

“Jadi mending kalau nanam buah, tanam buah bisa ke mana nanti jualnya,” ungkapnya.

 

Keputusan itu menjadi awal dari perjalanan yang penuh percobaan. Fairuz tidak memiliki pengalaman khusus dalam membudidayakan melon. Hampir seluruh pengetahuan teknis diperolehnya melalui proses mencoba, mengamati hasil, kemudian memperbaiki kesalahan.

 

“Dulu awal-awal masuk ke dunia melon juga nanam pertama kali plonco semua. Jadi nanam buah, pupuknya terserah apa, nyoba-nyoba saja,” katanya.

 

Varietas Intanon menjadi salah satu pilihan pertamanya. Dari lahan sekitar 30 ru, panen yang diperoleh berada di kisaran 1 ton hingga 1,5 ton.

 

Angka tersebut sebenarnya cukup menjadi modal awal. Namun, Fairuz menyadari kualitas buah yang dihasilkan belum seperti yang diharapkan.

 

Ia pun harus berhadapan dengan kegagalan. Dari tiga kali panen pada masa awal merintis usaha, dua panen disebutnya menjadi pengalaman paling berat.

 

“Dulu itu sekitar tiga kali, ya. Tiga kali panen itu dua kali yang paling parah, dua kali awal,” ujarnya.

 

Kegagalan tersebut tidak membuatnya meninggalkan melon. Justru dari sana Fairuz mulai memahami bahwa hasil pertanian sangat bergantung pada ketepatan perlakuan sejak tanaman mulai tumbuh hingga mendekati masa panen.

 

Eksperimen demi eksperimen terus dilakukan. Pengetahuan mengenai pupuk, perawatan, varietas hingga pengendalian penyakit dipelajarinya sedikit demi sedikit.

 

Empat tahun menjalani proses tersebut membuat skala usahanya berubah. Lahan yang dikelola Fairuz kini mencapai sekitar 150 ru, terdiri atas lahan pribadi dan lahan milik warga yang disewa.

 

Dalam satu tahun, ia dapat menjalankan tiga hingga empat siklus tanam. Agar masa panen tidak datang bersamaan, penanaman dilakukan secara bertahap dengan selisih sekitar tujuh hari.

 

Semakin berkembang, pilihan varietas yang ditanam Fairuz juga semakin beragam. Sweet Lavender, Skydro dan The Blues menjadi beberapa varietas yang kini dibudidayakannya.

 

Ia bahkan tetap menyediakan ruang untuk bereksperimen dengan varietas lain. Salah satunya Melon Sani yang dicoba sebagai tanaman selingan.

 

“Tapi ada satu selingan nyoba-nyoba yaitu Melon Sani,” ungkapnya.

 

Bagi Fairuz, keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh varietas. Cara melindungi tanaman juga menjadi bagian penting yang menentukan hasil akhir.

 

Karena itu, ia memilih greenhouse sebagai tempat utama membudidayakan melon. Bangunan tersebut membantu menciptakan lingkungan yang lebih terkendali sekaligus mengurangi risiko tanaman terkena penyakit.

 

Menurut Fairuz, tanaman melon yang berada di lahan terbuka lebih mudah menghadapi berbagai gangguan. Penyakit seperti trotol, embun tepung, bercak daun hingga daun keriting menjadi sejumlah persoalan yang harus diantisipasi.

 

“Kalau di hamparan, rata-rata banyak penyakit. Bisa trotol, bisa embun tepung, bisa bercak daun, bisa juga kerut, keriting. Macam-macam, ada banyak sekarang penyakitnya itu,” katanya.

 

Penggunaan greenhouse juga berpengaruh terhadap kebutuhan obat tanaman. Dengan kondisi yang lebih terlindungi, frekuensi penggunaan fungisida dan insektisida dapat ditekan.

 

Fairuz pernah membandingkan sendiri kebutuhan penyemprotan pada tanaman yang dibudidayakan secara terbuka dengan tanaman di dalam greenhouse.

 

“Saya pernah nyoba, untuk fungi sama insektisida, pernah satu kali panen itu cuma dua sampai tiga kali nyemprotin saja,” ungkapnya.

 

Penghematan tersebut menjadi salah satu keuntungan yang dirasakan Fairuz. Baginya, greenhouse bukan sekadar tempat menanam melon, tetapi juga bagian dari upaya mengendalikan risiko dan biaya produksi.

 

Ketika Harga Melon Berubah Mengikuti Pasar

 

Perjalanan menjadi petani melon ternyata tidak berhenti pada persoalan menumbuhkan tanaman. Setelah buah siap dipanen, Fairuz masih harus menghadapi ketidakpastian harga.

 

Harga melon dapat berubah mengikuti keseimbangan antara jumlah pasokan dan kebutuhan pasar. Ketika panen berlangsung serentak, harga bisa berada di kisaran Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram.

 

Situasinya berbeda ketika permintaan meningkat sementara pasokan sedang terbatas. Pada kondisi tertentu, harga di tingkat tengkulak bisa mencapai sekitar Rp19 ribu per kilogram.

 

“Harga macam-macam, Mas, variasi. Kalau misalnya pas panen raya ada 8 atau 20 ribu. Tapi kalau ketemu harga yang pas, artinya pada waktu itu kebutuhan banyak sementara panen sedikit, maka itu bisa sampai 19 ribuan,” jelasnya.

 

Karena itu, Fairuz harus memperhitungkan seluruh biaya sebelum menentukan target harga. Mulai dari persiapan lahan, bibit, pupuk, perawatan, hingga proses tanaman mencapai masa panen.

 

Untuk melon yang dihasilkan melalui sistem greenhouse, ia berupaya mempertahankan harga sekitar Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram agar kegiatan budidaya tetap memiliki ruang untuk berkembang.

 

Bagi Fairuz, perjalanan tersebut tidak bisa dilepaskan dari keputusan yang dibuat beberapa tahun lalu. Ia meninggalkan pekerjaan di Malang bukan karena sejak awal bercita-cita menjadi petani melon.

 

Kemudian, sebuah pesan dari ibunya membuatnya melihat lahan di belakang rumah dengan cara berbeda. Tanah yang sebelumnya tidak lebih dari sebidang lahan kosong perlahan berubah menjadi tempat ia membangun usaha.

 

Kini, setiap tanaman melon yang dirawat Fairuz menjadi bagian dari perjalanan panjang itu. Ada pengalaman gagal, keberanian mencoba kembali, hingga usaha memperbaiki teknik dari satu musim tanam ke musim berikutnya.

 

Di usia yang masih muda, Fairuz memilih bertahan di kampung halaman dan membangun pekerjaannya sendiri. Dari lahan yang diwariskan melalui sebuah pesan sederhana, ia menemukan bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke titik awal. Bagi Fairuz, pulang justru menjadi awal dari perjalanan baru.

Berita Terkait

Pelatihan Telur Asin Rutan Trenggalek, 15 Warga Binaan Dibekali Ilmu Usaha
Uniknya Syarat Nikah di Sambirejo, Calon Pengantin Wajib Lepas Sepasang Burung
Membaca Buku Gratis di Trenggalek, Puluhan Buku Bisa Dinikmati Warga
6 dari 11 Atlet Judo Trenggalek Naik Podium di Kejuaraan Internasional
Turnamen Free Fire di Trenggalek Diikuti 24 Tim, Minat Esports Anak Muda Kian Meningkat
Jagung Rebus hingga Mandi Pagi, Begini Perawatan Sapi Kurban Presiden di Trenggalek
Rental PS di Trenggalek Jadi Motor Tumbuhnya Komunitas Tekken
Kebun Melon di Trenggalek Ramai Diserbu Pembeli saat Ramadan

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:48 WIB

Pesan Ibu Antar Fairuz Jadi Petani Melon Muda di Trenggalek

Selasa, 22 September 2026 - 18:05 WIB

Uniknya Syarat Nikah di Sambirejo, Calon Pengantin Wajib Lepas Sepasang Burung

Minggu, 20 September 2026 - 17:44 WIB

Membaca Buku Gratis di Trenggalek, Puluhan Buku Bisa Dinikmati Warga

Senin, 15 Juni 2026 - 19:08 WIB

6 dari 11 Atlet Judo Trenggalek Naik Podium di Kejuaraan Internasional

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:04 WIB

Turnamen Free Fire di Trenggalek Diikuti 24 Tim, Minat Esports Anak Muda Kian Meningkat

Berita Terbaru