RAGAM WARTA, Jumat malam pelataran Pasar Pon Trenggalek bergema. Lantunan melodi ketukan beresonansi mengikuti bentangan tali. Irama itu mengeluarkan interval frekuensi terputus dengan tinggi amplitudo karena tekanan. Itu didapat karena permainan Lato-lato. (Jumat 13/1/2023)
Semua itu dalam kerangka pendalaman suara. Setiap gema muncul dari nada yang dikeluarkan dan dipantulkan benda lain. Hal itu mempengaruhi besar nilai tinggi suara antara Lato-lato dengan suara yang dikembalikan.
Suara Lato-lato dipengaruhi oleh bentang tali yang dipakai. Kualitas nada akan berbeda jumlah nilai getaran yang dihasilkan. Semakin pendek tali yang digunakan maka amplitudo getaran semakin tinggi. Begitu juga jumlah suara ribut atau noise yang semakin terbuka lebar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih dalam lagi, nilai utama nada berasal dari bahan Lato-lato yang digunakan. Semakin bahan yang digunakan memiliki kekerasan yang diukur ohm tinggi menimbulkan nada yang kencang. Begitu juga imbas getaran pada tangan pemakai. Untuk seterusnya tangan lebih cepat kaku.
Teknik menyeimbangkan imbas getaran itu bisa diredam menggunakan interval. Interval atau jarak sentuhan tentu mengurangi jumlah getaran yang diterima tubuh. Dan semua itu akan bisa terjadi jika penguasaan motorik berhasil.
“Permainan Lato-lato ini sangat baik untuk perkembangan anak. Lebih tepatnya pada penguasaan sensor motorik yang lebih baik. Apresiasi terbaik saya pada anak-anak Trenggalek. 100 peserta yang mendaftar online ternyata masih bertambah lagi saat kegiatan ini,” ungkap Ketua PKK Trenggalek Novita Hardini.
Sistem seleksi perlombaan dimulai dari bertahan mempermainkan Lato-lato terlama. Untuk kemudian mengambil jumlah peserta terbaik untuk diseleksi kembali. Hingga akhirnya didapatkan 3 pemain terbaik dari yang terbaik.
Tambahnya, “permainan ini sangat baik. Saya sangat yakin itu. Saya sendiri ikut mencoba. Dan ternyata tidak mudah dilakukan. Berulang-kali saya mengalami kegagalan. Jadi jangan dianggap permainan ini mudah, namun anak-anak ini bisa. Sungguh luar biasa mereka ini.”
(Ja’far Shadiq)






