RagamWarta.com – Filial Bulog KP Karangsoko di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Trenggalek, resmi diresmikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Senin (10/8/2026).
Kehadiran fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sarana penyimpanan sekaligus menjaga ketersediaan cadangan pangan di Jawa Timur.
Menurut keterangan Emil, penguatan sarana pergudangan menjadi penting seiring besarnya stok beras yang saat ini dimiliki Jawa Timur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penyerapan gabah dari petani dan beras yang dilakukan Perum Bulog membuat cadangan pangan di wilayah tersebut mencapai hampir 1,8 juta ton.
“Jawa Timur punya stok beras hampir 1,8 juta ton atau mendekati 2 juta ton. Artinya, Jawa Timur sudah menyumbang sekitar seperempat dari total cadangan beras nasional yang menembus di atas 5 juta ton,” ujar Emil.
Menurut Emil, besarnya cadangan tersebut harus diimbangi dengan ketersediaan sarana dan prasarana logistik yang memadai.
Keberadaan Filial Bulog KP Karangsoko dinilai penting untuk mendukung pengelolaan cadangan pangan, khususnya di wilayah selatan Jawa Timur.
Bulog sendiri terus memperkuat kapasitas penyimpanan melalui kerja sama maupun sewa gudang.
Emil menyebut, saat ini terdapat 269 unit gudang yang disewa Bulog untuk mendukung pengelolaan dan penjagaan cadangan pangan.
“Total ada 269 unit gudang yang disewa oleh Bulog untuk bisa menjaga cadangan pangan kita,” katanya.
Jaga Cadangan Pangan dan Stabilitas Harga
Peresmian Filial Bulog KP Karangsoko berlangsung ketika Jawa Timur mulai memasuki musim kemarau.
Kondisi tersebut membuat ketersediaan stok pangan menjadi salah satu hal yang perlu dijaga, di tengah upaya pemerintah mempertahankan produksi pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Emil juga menyoroti harga gabah yang saat ini telah berada di atas Rp8.000 per kilogram.
Menurutnya, harga tersebut menjadi kabar baik bagi petani, namun pemerintah tetap perlu mengawasi dampaknya terhadap harga beras di tingkat konsumen.
“Hari ini saja kami mendapat informasi ada harga gabah di atas Rp8.000. Tentu bagus, petani sejahtera. Yang harus kita lakukan adalah memantau harga di level konsumen, karena jangan sampai terjadi inflasi yang memberatkan rumah tangga,” jelasnya.
Ia menegaskan, kesejahteraan petani dan kemampuan masyarakat membeli beras harus berjalan beriringan.
Pemerintah tidak ingin peningkatan harga di tingkat petani justru membuat harga pangan di tingkat konsumen menjadi terlalu tinggi.
“Petani harus sejahtera, tetapi rumah tangga juga harus mampu membeli beras. Jangan sampai rumah tangga mengalami kesulitan membeli beras,” tegas Emil.
Karena itu, keberadaan cadangan pangan yang kuat dinilai menjadi salah satu instrumen untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mengendalikan inflasi.
Penguatan jaringan pergudangan dan penyerapan hasil pertanian menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
Selain kapasitas penyimpanan, Emil juga mengapresiasi mekanisme pengisian stok di Filial Bulog KP Karangsoko yang turut melibatkan mitra penggilingan lokal.
Skema tersebut dinilai memberikan manfaat karena dapat memperpendek jarak distribusi sekaligus menggerakkan pelaku ekonomi daerah.
“Saya tadi cek, ternyata pengisian stok di sini juga memberdayakan mitra-mitra penggilingan yang berada di Trenggalek. Jadi, efisiensi jarak sekaligus pemberdayaan pelaku ekonomi setempat ini menjadi sangat baik,” pungkasnya.






