TRENGGALEK, RagamWarta – Seperti tahun-tahun sebelumnya, jamasan pusaka rutin dilakukan setiap tahun sebagai rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi Trenggalek ke – 826.
Tanpa mengurangi kesakralan, walaupun hanya melibatkan sedikit masyarakat Trenggalek, prosesi jamasan atau pembersihan pusaka tetap terselenggara walau ditengah pandemi.
Baca juga : Bupati Kepincut Dengan Lukisan Perupa Trenggalek
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bupati Trenggalek Moch. Nur Arifin usai pelaksanaan jamasan mengatakan, prosesi adat haruslah tetap terselenggara. Pasalnya prosesi adat ini merupakan symbol yang diandalkan (piandel) daerah.
Arifin menegaskan prosesi yang dilaksanakan tahun ini tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Adapun hanya dalam prosesi di terapkan protokol kesehatan.
Baca juga : Bupati Trenggalek Lantik Lima Posisi Jabatan Tinggi Pratama
Perlu diketahui, dalam kegiatan jamasan ini ada beberapa pusaka yang di jamas. Yang pertama pusaka tombak Korowelang, kedua, songsong tunggu wibowo, songsong tunggu naga, dan bendera Parasamya Purnakarya Nugraha.
Dalam prosesi penjamasan tidak sembarangan, pertama mata tombak di bilas dengan air 7 sumber mata air. Untuk menjaga kebersihan pusaka agar tetap awet selanjutnya diberikan wangi-wangian dan minyak khusus.







