RAGAM WARTA – Warga Trenggalek tak perlu cemas hadapi kenaikan harga harga pangan jelang lebaran. Pasalnya Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Cabang Tulungagung, Jawa Timur terus optimalisasi serapan gabah maupun beras.
Menurut Adi Sumasto Saputro selaku Kepala Gudang Bulog Karangsuko Trenggalek bahwa pihaknya terus berupaya memenuhi stok gabah dan beras hasil panen petani. Upaya ini dilakukan agar cadangan beras di gudang tetap tercukupi.
“Target sebanyak mungkin. Selama ada panen raya, kami akan terus tampung. Jika perlu sampai penuh. Hal Ini kita lakukan agar stok beras hingga lebaran nanti tetap aman,” ungkap Andi Sumanto, Rabu (12/4/2023).
Dijelaskan Adi, mulai panen raya pada pertengahan Maret hingga saat ini, serapan beras dari petani di wilayah Trenggalek tercatat mencapai 650 ton beras. Sementara itu 50 ton di antaranya telah didistribusikan untuk bantuan sosial pangan.
Bahkan serapan beras masih akan terus bertambah, mengingat panen raya baru dimulai. Pihaknya menargetkan minimal sarapan bisa memenuhi isi gudang yakin sekitar 3000 ton.
“Kalau soal target dari itu kebijakan kantor cabang, namun kalau berkaca dari serapan tahun lalu lebih dari 2 ribu ton beras,” ujarnya.
Bahkan untuk memenuhi realisasi tersebut, pihaknya menggandeng mitra kerja yang melakukan serapan beras hingga menjamah luar daerah.
Adapun dalam menyerap beras terdapat beberapa syarat dan ketentuan. Mulai dari derajat sosoh minimum 95 persen, kadar air 14 persen, butir patah maksimum 20 persen dan butir menir maksimum dua persen.
“Jadi kami ambil dari mitra dan mitra tidak hanya mengambil dari Trenggalek. Ada yang dari luar daerah seperti Ngawi dan Nganjuk. Tergantung mana yang panen duluan,” tegasnya.
Sementara untuk harganya sekarang mencapai Rp 9.950 per kilogram. Harga tersebut naik dari yang sebelumnya Rp8.300 per kilogram. Ketentuan tersebut sesuai HPP (harga pembelian pemerintah).
Kepala Gudang Bulog Karangsuko Trenggalek ini juga optimis jika pihaknya mampu merealisasikan target serapan beras dalam musim panen raya kali ini. Bahkan Adi yakin jika harus bersaing dengan swasta atau tengkulak.
“Kita memang kalah sama swasta soal cek kualitas, karena di kita ada standar yang harus dipenuhi. Tapi Bulog menang di pencairan saat penyerapan. Biasanya kalau di swasta naruh barang, bayarnya tempo. Bahkan bisa beberapa hari atau bahkan beberapa pekan. Namun kalau kita di Bulog barang masuk, langsung dibayar,” pungkasnya.






