TRENGGALEK, RagamWarta – Perseteruan antara nelayan pancing ulur dengan nelayan kompresor terus bergejolak. Usai keributan yang terjadi pada awal bulan April kemarin, kedua kelompok nelayan yang kesehariannya sama-sama mencari lobster ini masih juga belum akur.
Bahkan kedua belah pihak saling klaim, bahwa upayanya mencari lobster aman dan tidak merusak lingkungan di perairan dalam. Seperti yang di terangkan oleh Joko Santoso, salah satu anggota kelompok nelayan kompresor ini menerangkan bahwa nelayan kompresor tidak bisa di masukkan dalam jajaran alat tangkap yang membahayakan.
Baca juga : Picu Semangat Kerja, Pemkab Trenggalek Alokasikan 94 Miliar Untuk Menambah Penghasilan ASN
Pasalnya jika menggunakan racun, lobster tidak akan laku dijual karena bisa dipastikan udang akan menjadi cacat atau bahkan mati sebelum di kirim ke pengepul. Hal senada juga diungkapkan oleh Hanudi, warga asal Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo ini juga mengklaim bahwa lobster hasil tangkapan nelayan kompresor memiliki kualitas yang lebih baik.
Pasalnya jika kedapatan menggunakan obat-obatan seperti potasium atau yang lainnya, bakal kesulitan mencari tengkulak. Menurut pria yang dulunya juga pernah cari udang dengan sistem pancing ukur ini juga menerangkan bahwa ada kriteria khusus dalam mencari udang menggunakan kompresor.
Baca juga : Begini Tanggapan Bupati Trenggalek Tentang Keluh Kesah Pedagang Pasar Pon
Sementara itu, pihak tengkulak pun juga menjabarkan bahwa lobster yang ia beli merupakan lobster pilihan dan yang paling penting tidak menggunakan racun. Pasalnya walaupun tidak bisa terlibat secara kasat mata, lobster bakal mati dan justru tengkulak yang rugi.






