RagamWarta.com– Kontroversi soal kompensasi dari pembangunan Jembatan Plengkung masih berlanjut. Pasalnya, hingga saat ini masyarakat setempat belum menerima dana tersebut.
Masyarakat setempat menuntut adanya dana kompensasi atas pembangunan jembatan yang telah dimulai sejak 2023 lalu. Terdapat enam Kartu Keluarga (KK) yang terdampak pembangunan ini.
Salah satu warga setempat yang bernama Wardoyo alias Yoyok menyampaikan bahwa ada tiga dampak buruk yang dialami masyarakat akibat adanya pembangunan Jembatan Plengkung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ada tiga dampak buruk, yang pertama itu adalah dampak polusi, polusi pembangunan seperti getaran dan debu. Kedua ada dampak usaha, yang mana saat pengerjaan jalan ditutup total. Padahal di dalamnya ada usaha warga,” paparnya.
Dan yang paling parah merurut mereka adalah dampak kehilangan akses jalan utama. Bagiamana tidak, saat ini tepat di depan ke enam rumah menjulang jembatan yang hanya menyisakan sedikit jalan yang rata dengan rumah.
“Dan yang ketiga dampak permanen. Yaitu rumah kami betul-betul terhimpit dengan adanya jembatan,” paparnya.
Tiga dampak tersebut yang melatarbelakangi masyarakat sekitar Jembatan Plengkung menuntut kompensasi puluhan juta rupiah atas pembangunan Jembatan.
“Tidak banyak kalau bagi pemerintah, hanya Rp 20 juta per warga yang kena dampak. Tapi realisasinya belum ada sampai saat ini,” ujar Wardoyo.
Pria yang ikut terdampak itu juga menjelaskan bahwa sebenarnya masyarakat sendiri sempat akan mendapatkan kompensasi berupa Dana Kerohiman senilai Rp 1,5 juta.
“Sempat mau dikasih dana sekitar Rp 1,5 juta, tapi kami tolak,” tegasnya.
Padahal jalan yang terdapat di depan rumah masyarakat terdampak pembangunan Jembatan Plengkung kian menyempit.
Hal ini disebabkan sebagian jalan yang ada di depan rumahnya terbeton oleh pembangunan Jembatan Plengkung.
Di sisi lain, salah satu masyarakat yang membuka usaha di sekitar jembatan yang bernama Amin Tohari mengeluhkan usahanya kian sepi.
“Dulu per hari itu bisa kalau dari burung saja mungkin Rp 50.000 dari warung kopi hampir Rp 100.000. Kalau sekarang sudah sepi.” ungkap Amin.
Padahal, dirinya harus menghidupi tiga orang anaknya dan merawat satu orang tua.
“Sekarang sudah sepi dan ini menganggu sekali. Sekarang hanya bisa jual burung dan utang,” tuturnya.
Amin berharap akses lalu lintas di depan rumahnya dapat segera digunakan kembali dan usahanya dapat kembali berjalan.
“Harapannya semoga akses ini dapat dilalui lagi dan usaha dapat berkembang lagi,” tutupnya.






