RagamWarta.com – Minyak Atsiri jadi pemimpin nilai ekspor produk UMKM se Kabupaten Trenggalek. Bagaimana tidak, dari total 102 miliar nilai ekspor, minyak Atsiri mampu jadi penyumbang terbesar nilai ekspor hingga capai Rp 54,7 miliar.
Dikutip dari data rekap nilai ekspor milik Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Trenggalek sampai dengan bulan Desember 2023 mencapai angka Rp102.106.791.965,00.
Dijelaskan Saniran selaku Kepala Diskomidag Trenggalek bahwa empat produk unggulan yang mendominasi komoditas ekspor di Kabupaten Trenggalek.
“Nilai ekspor UMKM ini didominasi oleh empat produk unggulan yaitu ester dan terpentin, fillet dory, plywood, dan minyak Atsiri,” ucap Saniran, Kamis (4/7/2024).
Secara rinci produk minyak atsiri menjadi penyumbang terbesar dengan total nilai ekspor mencapai Rp 54,7 miliar. Fillet dory menyusul dengan nilai ekspor sebesar Rp 30,7 miliar.
Untuk produk ester dan terpentin mencatatkan nilai ekspor Rp 9,7 miliar dengan tujuan ekspor utamanya adalah Singapura, Nigeria, India, dan Malaysia dengan.
Sementara plywood mencapai Rp 6,9 miliar dengan tujuan ekspor Malaysia dan Brunei Darussalam.
Tidak hanya itu, di tahun 2024 ini Diskomidag Trenggalek juga mengungkapkan bahwa terdapat beberapa komoditas lain yang diminati oleh masyarakat. Seperti batu akik dan sebagainya.
“Batu akik sekarang laku, kemudian ada bambu dari Kecamatan Dongko. Tepung ikan juga menjadi potensi yang dapat diekspor,” terang Saniran.
Namun yang disayangkan hingga sekarang beberapa komoditi ekspor yang berpotensi belum bisa terukur besaran nilai ekspornya.
“Kalau data pastinya kami masih melakukan survei, jadi belum bisa menyebutkan besarannya berapa,” ungkapnya.
Walaupun demikian Pemerintah Daerah optimis produk UMKM Trenggalek bisa bersua di pasar global. Pasalnya UMKM di Trenggalek mengalami penumbuhan secara signifikan.
Hal ini merujuk pada data BPS tahun 2011, dimana jumlah pelaku UMKM di Trenggalek mencapai 143 ribu pelaku usaha.
Sedangkan data baru dari Kemenkop 23.282 unit usaha, dalam artian satu orang bisa memiliki lebih dari satu unit usaha untuk sektor non pertanian.
“Sementara berdasarkan data BPS pencacahan lengkap tahap 1 tahun 2023 terdapat 179.171 unit usaha di sektor pertanian,” pungkasnya.






