TRENGGALEK, RagamWarta – Polemik rencana impor beras oleh pemerintah pusat membuat sejumlah petani di daerah resah. Bagaimana tidak, disaat musim panen seperti saat ini, harga jual gabah justru merosot tajam.
Bahkan untuk harga gabah basah saat ini berada dikisaran Rp 3.800 perkilogram. Sementara harga gabah kering siap giling sekitar Rp 4.800 perkilogram. Jika dibanding harga sebelumnya yang berada di angka Rp 4.300 perkilogram untuk gabah basah dan Rp 5.200 untuk yang kering.
Baca juga : Hina Profesi Perawat, Petani Asal Trenggalek Resmi Jadi Tersangka
Bisa dihitung terjadi penurunan sekitar 12 persen untuk dari harga tahun lalu. Hal ini yang membuat para petani resah, apalagi ditambah dengan sulitnya mencari pupuk bersubsidi dan terpaksa beli pupuk premium dengan harga yang terlampau jauh dari pupuk bersubsidi.
Keresahan petanipun juga memuncak akibat munculnya isu impor beras-besaran. Jika hal tersebut dibiarkan begitu saja, bisa-bisa harga gabah semakin menurun dari hari ke hari. Seperti yang disampaikan Ketua Kelompok Tani Jaya Kelutan Suwito.
Baca juga : Harga Cabai Rawit Merah di Trenggalek Double Pedas
Menurutnya Kebijakan impor beras oleh kementerian merupakan kebijakan yang kurang tepat apalagi di musim panen seperti saat ini. Menurutnya biaya yang keluarkan dan yang diterima tidak sebanding. Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu petani lainnya yakni Yateni.
Menurutnya jika dihitung, keuntungan dalam satu kali panen, para petani hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp 660.000. Itu pun belum termasuk biaya yang harus dikeluarkan jika tanaman terserang hama.
Baca juga : Terima Hearing Poktan, Komisi II Akan Segera Atasi Kelangkaan Pupuk di Trenggalek
Dengan adanya hitungan tersebut dalam satu kali panen, para petani bukannya untung tapi malah merugi. Bahkan saat ini petani enggan untuk menjual hasil panennya. Menurut mereka lebih baik digunakan untuk setok makan keluarga dari pada di jual malah rugi.






